Cerita Dewasa Terbaru, Bergoyang Di Mobil

0
22

Samid pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia ingin memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah teman seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku. Orangnya sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal sebagai buaya kampus.

Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat parkir itu. Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote mobilku. Akupun membuka pintu mobil dan berpamitan padanya. Ketika aku menutup pintu, tibatiba aku dikejutkan oleh Samid yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku.

Eeii.. mau ngapain kamu? tanyaku sambil meronta karena Samid mencoba mendekapku.

Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan hubungan badan nih, aku kangen sama kehangatan kamu katanya sambil menangkap tanganku.

Ihh.. nggak mau ah, aku capek nih, lagian kita masih di tempat parkir gila! tolakku sambil berusaha lepas.

Karena kalah tenaga dia makin mendesakku hingga mepet ke pintu mobil dan tangan satunya berhasil meraih payudaraku lalu meremasnya.

Samid.. jangan.. nggak mmhh! dipotongnya katakataku dengan melumat bibirku.

Jantungku berdetak makin kencang, apalagi Samid menyingkap kaos hitam ketatku yang tak berlengan dan tangannya mulai menelusup ke balik BHku. Nafsuku terpancing, berangsurangsur rontaanku pun melemah. Rangsangannya dengan menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku memaksaku membuka mulut sehingga lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu telak rongga mulutku, mau tidak mau lidahku juga ikut bermain dengan lidahnya. Nafasku makin memburu ketika dia menurunkan cup BH ku dan mulai memilinmilin putingku yang kemerahan. Teringat kembali ketika aku ML dengannya di kostnya dulu. Kini aku mulai menerima perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada lehernya dan membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kirakira setelah lima menitan kami berFrench kiss, dia melepaskan mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok kemudi membuat posisi tubuhku memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai bawahan berupa rok dari bahan jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia membuka kakiku, langsung terlihat olehnya pahaku yang putih mulus dan celana dalam pinkku.

Kamu tambah nafsuin aja Citra, aku sudah tegangan tinggi nih katanya sambil menaruh tangannya dipahaku dan mulai mengelusnya.

Ketika elusannya sampai di pangkal paha, diremasnya daerah itu dari luar celana dalamku sehingga aku merintih dan menggeliat. Reaksiku membuat Samid makin bernafsu, jarijarinya mulai menyusup ke pinggiran celana dalamku dan bergerak seperti ular di permukaannya yang berbulu. Mataku terpedam sambil mendesah nikmat saat jarinya menyentuh klistorisku. Kemudian gigitan pelan pada pahaku, aku membuka mata dan melihatnya menundukkan badan menciumi pahaku. Jilatan itu terus merambat dan semakin jelas tujuannya, pangkal pahaku. Dia makin mendekatkan wajahnya ke sana sambil menaikkan sedikit demi sedikit rokku.

.. oohh.. rasanya seperti tersengat waktu lidahnya menyentuh bibir vaginaku, tangan kanannya menahan celana dalamku yang disibakkan ke samping sementara tangan kirinya menjelajahi payudaraku yang telah terbuka.

Aku telah lepas kontrol, yang bisa kulakukan hanya mendesah dan menggeliat, lupa bahwa ini tempat yang kurang tepat, goyangan mobil ini pasti terlihat oleh orang di luar sana. Namun nafsu membuat kami terlambat menyadari semuanya. Di tengah gelombang birahi ini, tibatiba kami dikejutkan oleh sorotan senter beserta gedoran pada jendela di belakangku. Bukan main terkejutnya aku ketika menengok ke belakang dan melihat dua orang satpam sampai kepalaku kejeduk jendela, begitu juga Samid, dia langsung tersentak bangun dari selangkanganku. Satu dari mereka menggedor lagi dan menyuruh kami turun dari mobil. Tadinya aku mau kabur, tapi sepertinya sudah tidak keburu, lagian takutnya kalau mereka mengejar dan memanggil yang lain akan semakin terbongkar skandal ini, maka kamipun memilih turun membicarakan masalah ini baikbaik dengan mereka setelah buruburu kurapikan kembali pakaianku.

Mereka menuduh kami melakukan perbuatan mesum di areal kampus dan harus dilaporkan. Tentu saja kami tidak menginginkan hal itu terjadi sehingga terjadi perdebatan dan tawarmenawar di antara kami. Kemudian yang agak gemuk dan berkumis membisikkan sesuatu pada temannya, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Temannya yang tinggi dan berumur 40an itu lalu berkata,

Gini saja, bagaimana kalau kita pinjam sebentar cewek kamu buat biaya tutup mulut?

Huh, dasar pikirku semua lakilaki sama saja pikirannya tak jauh dari lendir, dasar otak selankangan. Rupanya dalam hal ini Samid cukup gentleman juga, walaupun dia bukan pacarku, tapi dia tetap membelaku dengan menawarkan sejumlah uang dan berbicara agak keras pada mereka. Di tengah situasi yang mulai memanas itu akupun maju memegangi tangan Samid yang sudah terkepal kencang.

Sudahlah Mid, nggak usah buangbuang duit sama tenaga, biar aku saja yang beresin kataku

Ok, bapakbapak aku turuti kemauan kalian tapi sesudahnya jangan coba ungkitungkit lagi masalah ini!

Walaupun Samid keberatan dengan keputusanku, namun dia mau tidak mau menyerah juga. Aku sendiri meskipun kesal tapi juga menginginkannya untuk menuntaskan libidoku yang tanggung tadi, lagipula bermain dengan orangorang seperti mereka bukan pertama kalinya bagiku. Singkat cerita kamipun digiring mereka ke gedung psikologi yang sudah sepi dan gelap, di ujung koridor kami disuruh masuk ke suatu ruangan yang adalah toilet pria. Salah seorang menekan sakelar hingga lampu menyala, cukup bersih juga dibanding toilet pria di fakultas lainnya pikirku.

Nah, sekarang kamu berdiri di pojok sana, perhatiin baikbaik kita ngerjain cewek kamu! perintah yang tinggi itu pada Samid.

Di sudut lain mereka berdiri di sebelah kanan dan kiriku menatapi tubuhku dalam pakaian ketat itu. Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok.

Kini aku dapat melihat namanama mereka yang tertera di atas kantong dadanya. Yang tinggi dan berusia sekitar pertengahan 40 itu namanya Somat, dan temannya yang berkumis itu bernama Ramali. Pak Somat mengelusi pipiku sambil menyeringai mesum.

Hehehe.. cantik, mulus.. wah beruntung banget kita malam ini! katanya

Kenalan dulu dong non, namanya siapa sih? tanya Pak Ramali sambil menyalami tanganku dan membelainya dari telapak hingga pangkalnya, otomatis bulubuluku merinding dan darahku berdesir dielus seperti itu.

Citra jawabku dengan agak bergetar.

Wah Citra yah, nama yang indah kaya orangnya, pasti dalemnya juga indah Pak Somat menimpali dan disambut gelak tawa mereka.

Non Citra cium aku dong, boleh kan? pinta Pak Ramali memajukan wajahnya

Aku tahu itu bukan permintaan tapi keharusan, maka kuberikan satu kecupan pada wajahnya yang tidak tampan itu.

Ahh..non Citra ini di mobil lebih berani masak di sini cuma ngecup aja sih, gini dong harusnya Kata Pak Somat seraya menarik wajahku dan melumat bibirku.

Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, dia makin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya sudah mulai meremasremas payudaraku dari luar. Lidahnya masuk bertemu lidahku, saling menjilat dan berpilin, bara birahi yang sempat padam kini mulai terbakar lagi, bahkan lebih dahsyat daripada sebelumnya. Aku makin berani dan memeluk Pak Somat, gairahsex.com rambutnya kuremas sehingga topi satpamnya terjatuh. Sementara dibawah sana kurasakan sebuah tangan yang kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, disana Pak Ramali mulai menyingkap rokku dan merabai pahaku.

Pak Somat melepas ciumannya dan beralih ke sasaran berikutnya, dadaku. Kaos ketatku disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH pink, itupun juga langsung diturunkan.

Wow teteknya montok banget non, putih lagi komentarnya sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya.

Pak Ramali juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus dipencetpencet dan dipelintir Pak Somat sambil mencupangi leher jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Pak Ramali yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot kuatkuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau gigitannya keras. Namun perpaduan antara kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas.

Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga angin malam menerpa kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan jelas. Pak Ramali menyelipkan tangannya ke balik celana dalamku sehingga celana dalamku kelihatan menggembung. Tangan Pak Somat yang lainnya mengelusi belakang pahaku hingga pantatku. Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan desahandesahan menggoda. Aku merasakan vaginaku semakin basah saja karena gesekangesekan dari jari Pak Ramali, bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu mencubit pelan biji klitorisku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Pak Ramali meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia keluarkan.

Waw..keras banget, mana diamaternya lebar lagi kataku dalam hati

bisa mati orgasme nih aku

Aku mengocoknya perlahan sesuai perintahnya, semakin kukocok benda itu makin membengkak saja.

Pak Ramali menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jarijarinya basah oleh cairan vaginaku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku.

Asyik nih, malam ini kita bisa ngerasain pantat si non yang putih mulus ini celoteh Pak Ramali sambil meremasi bongkahan pantatku yang sekal.

Aku menoleh ke belakang melihat dia mulai menurunkan celana dalamku, disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung di kaki kanan.

Pak masukin sekarang dong pintaku yang sudah tidak sabar marasakan batangbatang besar itu menjejali vaginaku.

Sabar non, bentar lagi, bapak suka banget nih sama vagina non, wangi sih! kata Pak Ramali yang sedang menjilati vaginaku yang terawat baik.

Pak Ramali mendorong penisnya pada vaginaku, walaupun sudah becek oleh lendirku dan ludahnya, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Tanpa memberiku waktu beradaptasi, dia langsung menyodoknyodokkan penisnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. Pak Somat sejak posisiku ditunggingkan masih betah berjongkok diantara tembok dan tubuhku sambil mengenyot dan meremas payudaraku yang tergantung persis anak sapi yang sedang menyusu dari induknya. Pak Ramali terus menggenjotku dari belakang sambil sesekali tangannya menampar pantatku dan meninggalkan bercak merah di kulitnya yang putih. Genjotannya semakin mambawaku ke puncak birahi hingga akupun tak dapat menahan erangan panjang yang bersamaan dengan mengejangnya tubuhku.

Tak sampai lima menit dia pun mulai menyusul, penisnya yang terasa makin besar dan berdenyutdenyut menggesek makin cepat pada vaginaku yang sudah licin oleh cairan orgasme.

Ooohh.. oohh.. di dalam yah non.. sudah mau nih bujuknya dengan terus mendesah

Ahh.. iyahh.. di dalam aja.. ahh jawabku terengahengah di tengah sisasisa orgasme panjang barusan.

Akhirnya diiringi erangan nikmat dia hentikan genjotannya dengan penis menancap hingga pangkalnya pada vaginaku, tangannya meremas eraterat pinggulku. Terasa olehku cairan hangat itu mengalir memenuhi rahimku, dia baru melepaskannya setelah semprotannya selesai. Tubuhku mungkin sudah ambruk kalau saja mereka tidak menyangganya kuhimpun kembali tenaga dan nafasku yang terceraiberai. Setelah mereka melepaskan pegangannya, aku langsung bersandar pada tembok dan merosot hingga terduduk di lantai. Kuseka dahiku yang berkeringat dan menghimpun kembali tenaga dan nafasku yang terceraiberai, kedua pahaku mengangkang dan vaginaku belepotan cairan putih seperti susu kental manis.

cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2016, cerita mesum terbaru, cerita mesum,

Hehehe..liat nih, air sperma aku ada di dalam vagina wanita kamu kata Pak Ramali pada Samid sambil membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan spermanya pada Samid yang mereka kira pacarku. gairahsex.com

Opps..omongomong tentang Samid, aku hampir saja melupakannya karena terlalu sibuk melayani kedua satpam ini, ternyata sejak tadi dia menikmati liveshow ini di sudut ruangan sambil mengocokngocok penisnya sendiri. Kasihan juga dia pikirku cuma bisa melihat tapi tidak boleh menikmati, dasar buaya sih, begitu pikirku. Sekarang, gairahsex.com Pak Ramali menarik rambutku dan menyuruhku berlutut dan membersihkan penisnya, Pak Somat yang sudah membuka celananya juga berdiri di sebelahku menyuruhku mengocok penisnya.

Hhmm..nikmat sekali rasanya menjilati penisnya yang berlumuran cairan kewanitaanku yang bercampur dengan sperma itu, kusapukan lidahku ke seluruh permukaannya hingga bersih mengkilap, setelah itu juga kuemutemut daerah helmnya sambil tetap mengocok milik Pak Somat dengan tanganku. Aku melirik ke atas melihat reaksinya yang menggeram nikmat waktu kugelikitik lubang kencingnya dengan lidahku.

Hei, sudah dong aku juga mau disepongin sama si non ini potong Pak Somat ketika aku masih asyik memainmainkan penis Pak Ramali.

Pak Somat meraih kepalaku dan dibawanya ke penisnya yang langsung dijejali ke mulutku. Miliknya memang tidak sebesar Pak Ramali, tapi aku suka dengan bentuknya lebih berurat dan lebih keras, ukurannya pun pas dimulutku yang mungil karena tidak setebal Pak Ramali, tapi tetap saja tidak bisa masuk seluruhnya ke mulut karena cukup panjang. Aku mengeluarkan segala teknik menyepongku mulai dari mengulumnya hingga mengisap kuatkuat sampai orangnya bergetar hebat dan menekan kepalaku lebih dalam lagi. Waktu sedang enakenak menyepong, tibatiba Samid mengerang, memancingku menggerakkan mata padanya yang sedang orgasme swalayan, spermanya muncrat berceceran di lantai. Pasti dia sudah horny banget melihat adeganadegan panasku.

Merasa cukup dengan pelayanan mulutku, Pak Somat mengangkat tubuhku hingga berdiri, lalu dihimpitnya tubuhku ke tembok dengan tubuhnya, kaki kananku diangkat sampai ke pinggangnya. Dari bawah aku merasakan penisnya melesak ke dalamku, maka mulailah dia mengadukaduk vaginaku dalam posisi berdiri. Berulangulang benda itu keluarmasuk pada vaginaku, yang paling kusuka adalah saatsaat ketika hentakan tubuh kami berlawanan arah, sehingga penisnya menghujam vaginaku lebih dalam, apalagi kalau dengan tenaga penuh, kalau sudah begitu wuihh.. seperti terbang ke surga tingkat tujuh rasanya, aku hanya bisa mengekspresikannya dengan menjerit sejadijadinya dan mempererat pelukanku, untung gedung ini sudah kosong, kalau tidak bisa berabe nih. Sementara mulutnya terus melumat leher, mulut, dan telingaku, tanganya juga menjelajahi payudara, pantat, dan pahaku. Gelombang orgasme kini mulai melandaku lagi, terasa sekali darahku bergolak, akupun kembali menggelinjang dalam pelukannya. Saat itu dia sedang melumat bibirku sehingga yang keluar dari mulutku hanya eranganerangan tertahan, air ludah belepotan di sekitar mulut kami. Di sudut lain aku melihat Pak Ramali sedang beristirahat sambil merokok dan mengobrol dengan Samid.

Pak Somat demikian bersemangatnya menyetubuhiku, bahkan ketika aku orgasmepun dia bukannya berhenti atau paling tidak memberiku istirahat tapi malah makin kencang. Kakiku yang satu diangkatnya sehingga aku tidak lagi berpijak di tanah disangga kedua tangan kekar itu. Tusukantusukannya terasa makin dalam saja membuat tubuhku makin tertekan ke tembok. Sungguh kagum aku dibuatnya karena dia masih mampu menggenjotku selama hampir setengah jam bahkan dengan intensitas genjotan yang stabil dan belum menunjukkan tandatanda akan klimaks. Sesaat kemudian dia menghentikan genjotannya, dengan penis tetap menancap di vaginaku, dia bawa tubuhku yang masih digendongnya ke arah kloset. Disana barulah dia turunkan aku, lalu dia sendiri duduk di atas tutup kloset.

Huh..capek non, ayo sekarang gantian non yang goyang dong perintahnya

Akupun dengan senang hati menurutinya, dalam posisi seperti ini aku dapat lebih mendominasi permainan dengan goyangangoyangan mautku. Tanpa disuruh lagi aku menurunkan pantatku di pangkuannya, kuraih penis yang sudah licin itu dan kutuntun memasuki vaginaku. Setelah menduduki penisnya, aku terlebih dahulu melepaskan baju dan braku yang masih menggantung supaya lebih lega, soalnya badanku sudah panas dan bemandikan keringat, yang masih tersisa di tubuhku hanya rokku yang sudah tersingkap hingga pinggang dan sepasang sepatu hak di kakiku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan naikturun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Somat mengerang karena penisnya terasa diplintir. Kedua tangannya meremasi payudaraku dari belakang, mulutnya juga aktif mencupangi pundak dan leherku.

Tibatiba aku dikejutkan oleh tangan besar yang menjambak rambutku dan mendongakkan wajahku ke atas. Dari atas wajah Pak Ramali mendekat dan langsung melumat bibirku. Samid yang sudah tidah bercelana juga mendekatiku, sepertinya dia sudah mendapat ijin untuk bergabung, dia menarik tanganku dan menggenggamkannya pada batang penisnya.

Mmpphh.. mmhh! desahku ditengah keroyokan ketiga orang itu.

Toilet yang sempit itu menjadi penuh sesak sehingga udara terasa makin panas dan pengap.

Ayo dong Citra.. emut, sepongan kamu kan mantep banget

Samid menyodorkan penisnya kemulutku yang langsung kusambut dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, kupakai ujung lidah untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Ini tentu saja membuat Samid blingsatan sambil meremasremas rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Somat dan mengocok penisnya Pak Ramali, sibuk sekali aku dibuatnya.

Sesaat kemudian penisnya makin membesar dan berdenyukdenyut, lalu dia menepuk punggungku dan menyuruhku turun dari pangkuannya. Benar juga dugaanku, ternyata dia ingin melepaskan maninya di mulutku. Sekarang dengan posisi berlutut aku memainkan lidahku pada penisnya, dia mulai meremmelek dan menggumam tak jelas. Seseorang menarik pinggangku dari belakang membuat posisiku merangkak, aku tidak tahu siapa karena kepalaku dipegangi Pak Somat sehingga tidak bisa menengok belakang. Orang itu mendorongkan penisnya ke vaginaku dan mulai menggoyangnya perlahan. Kalau dirasakan dari ukurannya sih sepertinya si Samid karena yang ini ukurannya pas dan tidak menyesakkan seperti milik Pak Ramali. Ketika sedang enakenaknya menikmati genjotan Samid penis di mulutku mulai bergetar

Aahhkk.. aku mau keluar.. non Pak Somat kelabakan sambil menjambaki rambutku dan

creett..creett,

beberapa kali semprotan menerpa menerpa langitlangit mulutku, sebagian masuk ke tenggorokan, sebagian lainnya meleleh di pinggir bibirku karena banyaknya sehingga aku tak sanggup menampungnya lagi.

Kisah Mesum Terbaru, Aku terus menghisapnya kuatkuat membuatnya berkelejotan dan mendesah tak karuan, sesudah semprotannya berhenti aku melepaskannya dan menjilati cairan yang masih tersisa di batangnya. Dengan klimaksnya Pak Somat, aku bisa lebih berkonsentrasi pada serangan Samid yang semakin mengganas. Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Samid sangat pandai mengkombinasikan serangan halus dan keras, sehingga aku dibuatnya melayanglayang. Gelombang orgasme sudah diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Samid menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku eraterat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahantahan itu pun kucurahkan juga. Kami orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalamku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku.

Kisah dewasa Terbaru, Aku langsung terkulai lemas di lantai dengan tubuh bersimbah peluh, untung lantainya kering sehingga tidak begitu jorok untuk berbaring di sana. Vaginaku rasanya panas sekali setelah bergesekan selama itu, dengan 3 macam penis lagi. Lututku juga terasa pegal karena dari tadi bertumpu di lantai. Setelah merasa cukup tenaga, aku berusaha bangkit dibantu Samid. Dengan langkah gontai aku menuju wastafel untuk membasuh wajahku, lalu kuambil sisir dari tasku untuk membetulkan rambutku yang sudah kusut. Aku memunguti pakaianku yang berserakan dan memakainya kembali. Kami bersiap meninggalkan tempat itu. CerpenSex

Lain kali kalau melakukan hubungan badan hatihati, kalau ketangkap kan harus bagibagi begitu kata Pak Somat sebagai salam perpisahan disertai tepukan pada pantatku.

Citra.. Citra.. sori dong, kamu marah ya! kata Samid yang mengikutiku dari belakang dalam perjalananku menuju tempat parkir.

Dengan cueknya aku terus berjalan dan menepis tangannya ketika menangkap lenganku, dia jadi tambah bingung dan memohon terus. Setelah membuka pintu mobil barulah aku membalikkan badanku dan memberi sebuah kecupan di pipinya seraya berkata

Aku nggak marah kok, malah enjoy banget, lain kali kita coba yang lebih gila yah, see you, good night

Kisah Sex Terbaru, Samid hanya bisa terbengong di tengah lapangan parkir itu menyaksikan mobilku yang makin menjauh darinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here