Cerita Sex Andini Yang Cantik

0
28

Namaku Iwan (samaran) seorang karyawan swasta usia 33 tahun. Dalam kehidupan pergaulan seharihari saya sering menjadi perhatian di lingkungan tempat saya bekerja, selain pergaulan yang luwes, saya memiliki postur yang bisa dikatakan lumayan. Dengan warna kulitku yang putih, tinggi 170 dan berat sekitar 67 Kg serta single, tidaklah sulit bagi diriku untuk mencari temanteman baru.

Di perusahaan tempat aku berkerja, ada salah seorang teman wanita yang (pernah) menjadi perhatianku. Sebut saja namanya Andini. Dalam pergaulannya, Andini juga seorang yang luwes, oleh sebab itu dia di tempatkan oleh pimpinan perusahaan di bagian marketing, yang sebelumnya adalah teman satu bagian dengan saya.

Pada awal tahun 2003 yang lalu Andini melangsungkan pernikahannya dengan seorang teman kuliahnya. Walaupun sekarang sudah menikah, Andini tetap seperti yang dulu, luwes dan anggun. Walaupun postur tubunya bukanlah tipe seorang yang bertubuh tinggi dan langsing, tapi dia memiliki kharisma tersendiri. Dengan kulit yang putih, buah dada sekitar 34 serta betis yang indah, senyumnya yang menawan, tidak mengherankan bila menjadi perhatian para lelaki.

Kedekatan diriku dengan Andini berawal sejak dia bekerja pada bagian yang sama denganku 3 tahun yang lalu. Sejak dia pindah bagian (lantai berbeda walaupun dalam satu gedung) dan menikah, saya jadi jarang sekali bertemu. Paling hanya berbicara melalui telpon atau saling kirim email.

Kami sering bercakapcakap mengenai kantor dan kadangkadang menjurus ke hal yang pribadi. Karena Andini kadangkadang berkeluh kesah mengenai masalahmasalah kantor, yang sering membuat pikirannya cemas. Dan hal itu terbawa dalam keluarga. Rasa cemas Andini terkadang memang berlebihan, yang membuat sampai awal tahun 2004 ini belum ada tandatanda bahwa dirinya hamil.

Setiap ada anggota keluarga atau temannya yang bertanya mengenai hal itu, menambah gundah dirinya. Segala upaya termasuk konsultasi kepada dokter sudah dilakukan, tetapi hasilnya tetap nihil. Rasa cemas dan bersalah timbul pada diri Andini, karena selalu menjadi bahan pertanyaan khususnya dari pihak keluarga. saya sering kali memberi semangat dan dukungan kepadanya untuk selalu belajar menerema apa adanya dalam situasi apapun.

Bila ada sesuatu pikiran yang membuat gundah Andini, saya selalu dapat membuat dirinya lupa dengan masalahnya. saya selalu dapat membuat dirinya tertawa, dan terus tertawa. Pernah suatu ketika, Andini tertawa sampai berlutut dilantai sambil memegang perutnya karena tertawa sampai keluar air mata dan sakit perut!!

Pada suatu hari (aku lupa persisnya) minggu ke 2 di bulan Februari 2004 yang lalu, Andini menelponku melalui HP. Pada saat itu saya baru saja sampai di rumah, setelah seharian bekerja.

Haloo Diniiii.. Lagi dimana lu? Tumben nih malemmalem nelpon, hehehehe.. kataku kemudian.
Lagi di rumaah. Lagi bengongbengong, laper and cuapek buanget nih, tadi sayaada meeting di Kuningan (jalan kuninganJakarta) dari siang, lu sendiri masih dikantor? kata Andini kemudian.
Nggak laah, baru aja sampai di rumah. Eh, lu dirumah bengangbengong ngapain sih? Emang di rumah lu kaga ada beras, sampai kelaperan gituh? candaku kemudian.

Disana Andini terdengar tertawa renyah sekali,

Hehehehe.. Emang benarbenar nih anak!! sayacapek karena kerja! Terus belum sempet makan dari pulang kantor!!
Ooo, gitu. sayakira lu capek karena jalan kaki dari kuningan ke rumah! kataku kemudian.
Eee, enak aja!! Ntar betis sayabesar sebelah gemana?
Lhaa kan, tadi sayabilang jalan kaki, bukan ngangkat sebelah kaki terus loncatloncat? Kenapa betis lu bisa besar sebelah?

Disana Andini hanya bisa tertawa, mendengar katakataku tadi.

Sudah lu istirahat dulu Din, jangan lupa makan, mandi biar wangi. Seharian kan sudah kerja, capek, ntar kalau lu dikerjain ama laki lu gemana, sementara sekarang aja lu masih capek? saya bicara seenaknya saja sambil meneguk minuman juice sparkling kesukaanku.
Kalau itu mah laeen.. saya enjoy aja!! Nggak usah mandi dulu laki sayajuga tetep nempel. Lagian sekarang laki sayang gak ada, kok. Lagi ke Australia.. kata Andini kemudian.
Ke Autralia? Wah, enak amat! Gini hari jalanjalan kesono sendirian, lu kok kaga ikut? Ngapain Din, beli kangguru ya? tanyaku seenaknya.
Eh, ni anak dodol amat sih!! Urusan kantornya lah!! kata Andini sengit, sementara saya hanya cekikikan mendengar Andini berkata sengit kepadaku.
So anyway, seperti pertanyaan sayatadi, lu tumben Din, malemmalem gini telpon. Baru kali ini kan? tanyaku.
Iya, sayamau ngobrol aja ama lu. Abis disini sepi.. nggak ada yang bisa diajak ngomong lalu Andini menceritakan apaapa saja yang menjadi pembicaraan dalam meeting tadi.

Seperti biasa, saya diminta pendapat dalam masalah kantor yang sedang ditangani, dalam sudut pandang saya tentunya.

Tak terasa, kami berbicara sudah satu setengah jam yang kemudian kami berniat mengakhiri, dan berjanji akan di teruskan esok harinya di kantor. Sebelum saya menutup telpon, tibatiba Andini menanyakan sesuatu kepadaku,

Eh, saya mau tanya dikit dong, boleh nggak? Tapi kalau lu nggak mau jawab, nggak apaapa..
Apa? tanyaku kemudian.
Maaf Wan, kalau saya boleh tanya, Hmmm.. Lu pernah ML nggak?.

Mendengar pertanyaan seperti itu saya sedikit kaget, karena walaupun pembicaraan saya dan Andini selalu apa adanya dan kadang bersifat pribadi, tapi belum pernah seperti ini.

Ngg, pernah.. Kenapa Din? tanyaku ingin tahu.
Nggak, cuma tanya doang.. Lu pertama kali ML kapan, pasti ama cewe lu yah? tanya Andini.
Gue pertama kali ML waktu SMA, sama teman bukan ama cewe gue, lu sendiri kapan?

Mendengar jawaban ku tadi Andini langsung berkata,

Gue sih, waktu kuliah. Itu juga setelah TA, sama Randy (suaminya). Rasanya gemana Wan, ML pertama kali? tanya Andini.
Lhaah, lu sendiri waktu ML pertama kali gemana?.
Awalnya sih, sakit. Tapi enak juga.. Hehehe. Abis Waktu itu Randy buruburu amat. Maklum waktu itu kami takut ketauan…
Emang lu ML dimana, di kantor RW?
Hahaha, nggak lah!! sayalakuin di ruang tamu rumah sayasendiri. Waktu itu lagi nggak ada orang lain. Pembantu sayajuga lagi keluar rumah
Wah, ternyata waktu sayake rumah lu kemarin, sayanggak sangka duduk di sofa yang pernah digunain untuk perang antar kelamin..

Andini hanya tertawa mendengar celotehanku itu. Kemudian kami saling bercerita mengenai pengalaman kami masingmasing, sampai dengan masalah posisi yang paling disukai dan yang tidak disukai dalam berhubungan intim. Kami juga samasama bercerita kalau kadangkadang melakukan masturbasi apabila keinginan sudah menggebu dan tidak tertahankan.

Wah, Wan.. kalau lu abis mastur, jangan dibuang sembarangan dong, kasiankan, anak lu pada teriakteriak di got. Mending lu bungkus terus kirim ke sayaaja, kalikali bermanfaat
Emang lu mau sperma gue, bawanya gemana? Dibungkus? Kaya bawa nasi rendang! Kirim lewat apa dong? Mending langsung tuang ke lu langsung. Praktis dan nyaman, hehehehe.
Week, mengharap amat! Lu yang nyaman, tapi sayayang nggak aman!! Nggak, sayacuma mau sperma lu aja celetuk Andini dengan sengit.
Sudah ah, sayamau mandi dulu terus tidur, besok kita kan masih kerja.. kata Andini kemudian. Setelah itu kami samasama berpamitan untuk menutup telpon.

TGF (Thanks God is Friday), hari itu saya melakukan seperti biasanya. Walaupun saya terasa mengantuk, tapi saya senang dan bekerja dengan semangat sekali karena besok dan lusa libur. Seperti janji semalam, saya makan siang dengan Andini untuk melanjutkan pembicaraan masalah kantor yang sedang dihadapinya. saya dan Andinipun berangkat bersama, menuju restoran yang menyajikan masakan Thailand di bilangan Jakarta Selatan.

Sepanjang perjalanan dan di tempat tujuan pembicaraan kami hanya berkisar masalah pekerjaan yang serius, sekalikali bercanda dan tertawa. Tidak ada satupun topik yang mengungkitungkit pembicaraan akhir di telepon semalam.

Sampai pada saat kami diperjalanan pulang, kami hanya diam seribu bahasa. Mungkin karena Andini masih mengingat pembicaraan yang tadi dibicarakan. Kalau saya sih, sedang mengingatingat rencana apa yang akan dilakukan liburan nanti. Entah apa yang ada di benak Andini, mungkin pusing liat kemacetan lalu lintas yang sedang dihadapi, maklum dia yang jadi sopir. Sementara saya bersantairia disampingnya sambil mendengarkan lagu slow R

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here