Darah Perawan Rara

0
43

Darah Perawan Rara

WANITA MUDA – Yah, kita terlambat deh, Yu. keluh Dinda.
telah melalui 5 menit nih, Ayu serta-merta lunglai.

Kuliah mula-mula hri ini dosennya killer banget, namanya Pak Sundjoto. dirinya benarbenar takut sama Pak Sundjoto. Namanya saja telah Sundjoto, gimana senjatanya. Finally, mereka mesti bolos kuliah. Itu lebih baik, daripada mereka mesti dihukum menyalin pekerjaan statistik tujuh kali.

Ya udah deh, aku mandi dulu. Kau juga Din, nanti masuk angin kata Ayu sambil segera masuk ke kamarnya dengan lemas.

Dinda benarbenar merasa bersalah. Seharusnya ia tak terlalu lama memilihmilih bra tadi, tapi Dinda memang paling senang pilihpilih underwear. Bisa dikategorikan bahwa Dinda seorang kolektor underwear. Akibatnya mereka harus mengejar waktu menembus hujan yang cukup deras, tapi nyatanya tetap harus terlambat.

Untuk menebus kesalahannya itu Dinda memasakkan mie goreng untuk Ayu. Ayu gemar banget sama mie goreng, dan itu merupakan senjatanya untuk meminta maaf kepada Ayu. Dinda tak peduli kedinginan. Tanpa harus mandi dulu, ia sudah menggorengkan mie untuk Ayu.

Lalu Dinda segera membawa mie goreng made in dirinya ke kamar Ayu. Ayu kaget ketika Dinda tibatiba masuk ke kamarnya begitu saja. Pasalnya Ayu belum selesai memakai bajunya. Ia masih bertelanjang dada. Untung bagian paling sensitifnya sudah diamankan sebelum Dinda masuk tadi. Dinda juga tak kalah kagetnya. Ia sampai terbengongbengong memandangi pemandangan indah yang terhampar di depan matanya. Kedua bukit kembar Ayu membusung di depannya. Sekal membulat sedikit berlebihan untuk tubuhnya yang agak kurus.

Kedua bola mata Dinda yang bening nanar memandangi kedua daging kecil coklat kemerahmerahan yang bertengger di kedua ujung bukit kembar itu. Darah Dinda bagai disiram air hujan, dingin menggigil. Ia terbayang beberapa adegan blue film yang pernah ditontonnya. Hujan semakin deras di luar. Petir mengelegar memekakkan telinga. Dinda tersentak mendengarnya.

Ah, maaf Yu. Aku tak sengaja. Ini mie goreng untukmu. Makanlah selagi hangat, kata Dinda sedikit gugup.

Diletakkannya sepiring mie goreng itu di meja rias. Dinda segera berbalik hendak pergi tapi urung karena Ayu memanggilnya.

Din, aku masuk angin. Kamu mau kerokin kan aku? pinta Ayu.

Mulanya Dinda ingin menolak. Dia takut birahinya muncul dan salah tempat karena Ayu dan Dinda sejenis. Tapi melihat wajah memelas Ayu, perasaan bersalah Dinda kembali muncul. Bagaimanapun juga Dinda yang menyebabkan Ayu jadi masuk angin. Akhirnya Dindapun bersedia menuruti permintaan Ayu.

Sebentar aku ambilkan balsemnya, ujar Dinda segera keluar kamar Ayu.

Tapi ternyata Ayu menyusul Dinda. Ayu berfikir di kamar Dinda juga tidak apaapa, sama saja. Maka dengan hanya mengenakan CDnya Ayu masuk ke kamar Dinda. Tentu saja Ayu tidak perlu khawatir karena mereka hanya berdua di rumah itu saat ini.

Disini saja, Din. kata Ayu membuat Dinda terkejut tak menyangka Ayu akan menyusul ke kamarnya.

Ayu menelungkupkan badannya diatas ranjang. Kemudian Dinda duduk di tepi ranjang untuk mulai mengerokin kulit punggung Ayu. Tapi niat itu urung dengan tibatiba. Jemari Dinda menyentuh kulit punggung Ayu sekilas. Kulit punggung Ayu halus sekali. Punggung Ayu yang agak kecoklatcoklatan nampak belang di bagian yang biasa tertutup tali bra. Tanpa sadar Dinda menyentuhkan jari telunjuknya menyusuri bagian punggung Ayu yang belang itu.

Dari punggung atas teruuss menyamping. Ayu yang merasa kegelian membalikkan badan. Pada saat itulah tanpa sengaja jari telunjuk Dinda menyentuh payudara kiri Ayu.

Kenapa, Din? tanya Ayu sedikit mengatupkan mata menahan rasa merinding di tubuhnya.
Kulitmu halus sekali.ujar Dinda dengan nafas tersendat.

Mata Dinda kembali tertuju pada bukit kembar yang terpampang di depannya.Milikmu besar sekali. lanjut Dinda.

Kamu sudah pernah ML (make love) ya?
Siapa bilang? Ini keturunan., jawab Ayu sambil sedikit mengangkat bukit kirinya ke atas, bagaikan menantang setiap tangan untuk memegangnya.

Birahi Dinda yang mulai terbakar dan imbas dari kehujanan tadi membuat Dinda menggigil. Kemudian dilepaskannya kaosnya yang sudah agak kering. Tersembulah dua bukit kembar Dinda yang masih terbalut kain bra. Dua bukit yang sebenarnya agak kecil itu terlihat lebih besar dari ukuran sebenarnya karena menegang menahan birahi Dinda yang mulai meluap. Entah mengapa Ayu menjadi senang ketika Dinda melepas kaosnya.

Milikmu juga besar Din. kata Ayu.

Dinda memandangi kedua bukit yang masih tertutup kain ituCoba aku buka ya pinta Ayu.

Ayu menempelkan tubuhnya ke tubuh Dinda untuk membuka pengait bra di punggung Dinda sehingga Dinda mudah untuk melepaskannya. Mata Ayu berbinarbinar memandangi dua bukit kembar ukuran 32 milik Dinda itu. Walau sedikit lebih kecil dari miliknya, tapi milik Dinda itu nampak lebih ranum. Tentu saja itu karena birahi Dinda yang mulai bergolak. Tibatiba Dinda melepaskan klok yang dipakainya. Sesekali gerakannya tersendat. Kini mereka berdua sama. Hanya memakai CD tanpa penutup lain.

Yuu.. aku rasanya mau.. suara Dinda mendesahMau apa? tanya Ayu dengan tatapan menggoda.Aku tak bisa menahannya Yu.. suara Dinda makin mendesah.

Tahulah kini Ayu apa yang diinginkan Dinda. Ia segera menarik tuduh Dinda merebah. Kemudian dirabanya dada Dinda perlahan dan lembut. Diresapinya kehalusan kulit Dinda senti demi senti. Disentilsentilnya puting payudara Dinda setiap kali jemari Ayu menyentuhnya. Dada Ayu bergemuruh, nafasnya naik turun. Sedang Dinda tersengalsengal menikmati setiap sentuhan Ayu.

Yu.. ooh.. dinginn..Din.. kamu menggairahkan banget.. aku.. juga mau.. Ayu mulai gelap mata.

Kini ditindihnya tubuh Dinda. Bibir Ayu menyentuh bibir Dinda. Dilumatnya bibir bawah Dinda dengan rakus, dihisap dan digigitgigit kecil. Dipermainkannya lidah Dinda dengan lidahnya hingga membuat Dinda berkerjapkerjap. Bukit kembar mereka saling menghimpit.

Keduanya nampak seperti kembar siam saja, saling menempel dan melumat. Dinda menggesekgesekkan kemaluannya pada kemaluan Ayu berirama. Sedangkan kedua tangannya telah meremasremas kedua bokong Ayu yang semok dan sekal. Nafas keduanya semakin memburu menikmati apa yang belum pernah sekalipun mereka rasakan.

Ahgh.. Yu.. enak.. teruus aahh rintih Dinda di selasela cumbuan Ayu.

Bibir Ayu turun menjilati leher Dinda yang jenjang dan memberikan gigitangigitan kecil sehingga nampak noda merah di beberapa tempat di leher Dinda. Gejolak birahi Dinda yang telah bergolak bagai tak bisa dibendung menyambarnyambar bagai kilat di sore itu. Dibalikkannya tubuh Ayu sekuat tenaga. Kini posisi mereka berbalik. Dinda yang berbadan lebih besar menghimpit tubuh Ayu.

Tanpa banyak pikir diremasnya bukit kembar Ayu bergantian. Makin lama semakin keras. Ayu meringis menahan sakit. Lalu Dinda memasukkan puting merah kecoklatcoklatan itu ke dalam mulutnya. Di dalam mulutnya Dinda meniup dan menghisap daging kecil itu. Dijilatinya beberapa bagian yang bisa digapai oleh lidahnya. Kemudian digigitgigitnya gemas daging yang sudah sangat keras itu.

Achh.. teriak Ayu kesakitan.

Ayu membenamkan kepala Dinda ke dadanya yang semakin dibusungkan. Ayu benarbenar melayang. Manakala jemari Dinda mulai merabaraba isi dibalik CDnya. CD itu telah basah bermandikan lendir yang berasal dari lubang vagina Ayu. Dinda merabarabanya. Tangannya kini telah menelusuri setiap lekuk bukit belah yang berumput basah itu. Disentilnya sesekali ketika cemarinya menyentuh daging kecil yang tersembul di antara belahannya.

Ehh.. nikmat sekali Din.. teruss lakukan teruss.. ehh Ayu mengerang kenikmatan.Dinda tak banyak bicara.

Ia hanya mendengusdengus memburu sambil terus mengulum puting susu Ayu. Ditekannya vagina Ayu dengan telapak tangannya. Tersembur cairan kental dari lubang vagina Ayu yang kini menempel di tangannya. Dinda menghentikan kulumannya. Dilihatnya telapak tangannya yang basah oleh cairan dari lubang vagina Ayu itu. Dijilatnya cairan itu. Tak berasa.

Kenapa berhenti, Din? kata Ayu kesal.
Ikuti petunjukku Ayu, pinta Dinda.Dinda segera melepas CDnya.

Kini ia dalam keadaan telanjang bulat. Tak selembar kainpun membalut tubuhnya. Dilemparkannya CD yang telah basah itu entah kemana. Kemudian dilepasnya pula CD milik Ayu. Ayu membantu dengan meregangkan selangkangannya. Kini mereka telah samasama polos seperti bayi. Dinda kini berganti posisi tidur. Tubuhnya masih tetap menindih tubuh Ayu. Tapi mukanya kini sudah berada di atas selakang Ayu. Dan wajah Ayupun sudah berada di bawah selakang Dinda. Dinda memulainya dengan menciumi vagina Ayu.

Kemudian lidahnya mulai bermainmain di rerumputan yang telah basah itu. Ayu bagai diperintah mengikuti semua yang dilakukan Dinda. Disapunya semua bagian vagina Dinda yang ditumbuhi bulubulu yang agak jarang. Dijilatjilatnya klitoris Dinda lalu dihisapnya agak kuat. Dinda mendesisdesis kegelian. Lalu dilakukannya hal serupa pada vagina Ayu membuat Ayu bergelinjangan. Ditekantekannya kembali vagina Ayu dengan telapak tanggannya.

Suur.. cairan kental itu kembali keluar. Dijilatinya dinding vagina Ayu sehingga membuat Ayu semakin terlena. Tibatiba Dinda melihat lubang berwarna coklat kemerah merahan yang agak terkatup. Dijilatjilatnya lubang itu, Ayu bergelinjangan. Dinda terus menjilatinya sambil mengingatingat salah satu blue film yang pernah ditontonnya. Mungkin lubang inilah yang dimaksud. Lubang yang selalu disodok oleh penis kalau ingin mendapatkan kepuasan tertinggi. Mata Dinda berbinarbinar.

Ia berguling ke samping, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ayu.

Aku akan membawamu terbang, Yuu.. Ayu mengangguk pasrah.

Yang terpenting baginya adalah menikmati permainan Dinda selanjutnya. Dinda meraih sebatang wortel dari rak sayur di bawah meja. Kemudian ditekuknya siku kaki Ayu dengan posisi agak mengangkang sehingga kepala Dinda mudah mencumbu kembali bagian terpeka Ayu itu. Dengan perlahan ditusukkannya ujung wortel itu ke dalam lubang kemaluan Ayu. Ayu merintihrintih kesakitan. Vaginanya terasa panas dan nyeri. Tapi Dinda terus mendorongnya ke dalam.

Aaahh.. Ayu menjerit badannya terduduk seketika.

Matanya liar memandangi benda apakah gerangan yang telah membuatnya merasa kesakitan. Darah segar menyembur, keperawanan Ayu telah amblas. Dinda menarik keluar batang wortel itu, tapi belum sampai keluar sepenuhnya, sudah dimasukkan kembali. Mata Dinda mengerjapngerjap. Sedang Ayu memandangi batang wortel yang keluarmasuk lubang keperawanannya dengan nafas menghentakhentak. Ada rasa nikmat di antara rasa nyeri di lubang kewanitaannya.

Kemudian direbutnya batang wortel itu dari tangan Dinda. Dimasukkannya ujung wortel itu lebih dalam dengan tangganya sediri. Matanya terpejam menikmati kenikmatan yang luar biasa. Dinda yang merasa kelelahan tergeletak bersimbah keringat. Hatinya bergemuruh mengenang yang barusan terjadi. Ada apa dengannya? Apakah dia sudah menjadi seorang lesbi? Ah, tidak! Ia masih normal! Hati Dinda berontak. Ia segera berlari keluar kamar sebelum Ayu kembali memburunya dengan batang wortel yang masih bersimbah darah keperawanan Ayu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here