Dinas Keluar Kota (Hijab)

0
7

Dinas Keluar Kota (Hijab)

saya Karina atau biasa di panggi Ririn. Ortuku benar-benar telah membiasakanku buat mengenakan jilbab dari mungil. biarpun mengenakan jilbab, saya ialah jenis perempuan yg tak dapat ketinggalan mode. Oleh dikarenakan itu saya senantiasa memperhatikan penampilanku, sejak mulai dari baju mode paling baru hingga merawat tubuh.

Sebagai seorang wanita normal, aku merasa senang apabila penampilanku membuat orang lain atau lawan jenis memperhatikanku dan memujiku. Tetapi aku bukanlah wanita nakal atau murahan, membuat diriku menjadi pusat perhatian memberikanku kepuasan tersendiri dan menjadi lebih percaya diri.

Walaupun kini aku sedang berada di puncak karierku sebagai seketaris direktur perusahaan ternama, Aku tetap menghormati suamiku. Apalagi usia kami yang tepaut cukup jauh yaitu 9 tahun. Penghasilan suamiku yang jauh lebih kecil, tidak menjadikanku istri yang membangkang. Kehidupan keluarga kami cukup harmonis dan sudah dikaruniai seorang anak lakilaki.

Cerita Dewasa | Sudah hampir 2 tahun belakangan ini, aku diangkat sebagai seketaris dari direktur utama di perusahaan trempatku bekerja. Aku memang termasuk wanita yang rajin dan ulet dalam bekerja, oleh karena itu Pak Simon mengangkatku sebagai seketarisnya langsung.

Pekerjaanku sebenarnya tidaklah terlalu sulit, hanya membantu mengatur dan mengurus segala keperluan administrasi dari Pak Simon. Namun profesi ini mewajibkanku untuk selalu ikut kemanapun Pak Simon pergi mengurusi perusahaan, oleh karena itu profesi ini sungguh menyita waktuku.

Cerita Mesum | Tentunya aku terlebih dahulu meminta pendapat suamiku, sebelum menyetujui pengangkatan jabatan tersebut. Dan untungnya suamiku sangat pengertian dan memaklumi bila terkadang aku harus pulang malam atau pergi keluarkota bersama Pak Simon karena meeting atau pertemuan bisnis.

Pak Simon adalah pria paruh baya keturunan, berusia 48 tahun. Dengan kulit yang putih dan mata yang sipit membuat siapa saja yang melihatnya langsung tahu kalau dia adalah pria keturunan. Walaupun terkenal dengan pribdi yang tegas, sebenarnya Pak Simon adalah orang yang cukup humoris dan asik untuk diajak komunikasi. Candaannya yang apa adanya serta tawanya yang khas, seringkali menghiburku saat penat bekerja.

Sebenarnya penampilan Pak Simon tergolong biasa layaknya bos, dengan rambut yang selalu disisir ke samping dan klimis, perut buncit yang terlihat lucu di tubuh pendeknya. Pakaian mahal dan jam mahal selalu menempel di tubuhnya.

Pak Simon memang sangat menghormatiku sebagai wanita berhijab, dan tidak pernah melakukan hal yang kurang ajar kepadaku. Walau kadang becandaan kami sering menyerempetnyerempet ke arah Fulgar, itu pun masih dalam batas wajar layaknya obrolan antara orang dewasa.

Hingga saat ini, pagi ini aku langsung sibuk merapihkan pakaian ke dalam koper. Tentu saja setelah selesai dengan kewajiban pagiku untuk melayani suamiku dan anakku yang tengah bersiap pergi kerja dan bersekolah.

Mah.. jadi pergi ke Bali? Tanya suamiku yang kembali masuk kamar setelah mengantar anakku untuk naik jemputan sekolah.

Jadi Pah.. paling dua sampai tiga hari aja kok sayang Jawabku sambil terus merapihkan isi koper di atas tempat tidur.

Jangan diforsir kerjanya yah mah!! Ujar Suamiku yang kini duduk pinggir tempat tidur.

Melihat suamiku yang sepertinya agak berat untuk melepas aku pergi, aku pun duduk dipangkuannya dan melingkarkan tanganku di lehernya.Iya Pah.. Papah juga jangan lupa makan yah Ucapku manja.

Aku saat ini memang belum mengenakan hijabku dan hanya mengenakan tangtop putih dan celana kerja panjang bahan yang senada dengan blazer coklat yang nanti akan aku kenakan untuk menutupi bagian atas tubuhku.

Papah mau..kok liatin nenen mamah gitu? Tanyaku manja karena melihat pandangan suamiku yang terus menatap belahan di atas tangtopku.

Pakaian kamu kok seperti itu mah?

Iya.. kan nanti ditutup blazer dan kerudung pah

Udah ah jangan diliatin terus nanti kita telat Ujarku yang langsung bangkit dan mengenakan blazer seta penutup kepala.

Kami pun berangkat ke tujuan masinmasing. Singkat cerita setelah janjian bertemu di Air port, Aku dan Pak Simon pun langsung terbang ke Bali. Sebenarnya aku cukup senang jika harus berkerja menemani Pak Simon ke luarkota, karena bisa jalanjalan geratis dan menjadikan pekerjaan tidak membosankan.

Seperti biasa setelah kami check in di salah satu hotel bintang lima, kami langsung berangkat untuk meeting di salah satu cabang perusaan disana. Dan baru kembali ke hotel setelah acara makan malam bersama karyawan dan jajaran direksi di sana.

Tentu saja kami menginap di kamar hotel yang berbeda namun bersebelahan. Setelah mandi dan merapihkan beberapa dokumen. Aku menyempatkan diri untuk mengubungi anak dan suamiku. Tak beberapa lama kemudian Pak Simon menelefon untuk membahas jadwal besok.

Setelah kembali mengenakan pakaian yang sedikit santai, aku pun turun menyusul Pak Simon yang telah siap menunggu di lobi hotel. Dan akupun ikut duduk dan mulai menjelaskan beberapa rincian pekerjaan yang akan dikerjakan selama di Bali.

Hmm.. sepertinya akan sibuk kita Rin Ujar Pak Simon yang hendak menyeruput secangkir expresso. Pak Simon memang terbiasa memanggilku Ririn, mungkin agar lebih akrab dan tentu saja aku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh umur kami memang tepaut cukup jauh.

Iya pak.. Walau cabang kecil tapi transaksi disini cukup ramai Jawabku

Bisa gak sempat saya jalanjalan sambil liatliat cewek disini..Hahaha Ucapnya santai sambil diikuti tawanya yang khas.

Kan bisa liat saya pak.. Jawabku mengikuti candaannya.

Bosen ah..Hahahahha

Tawa kami pun meledak seketika, memang tidak aneh bagiku dan Pak Simon untuk bercanda seperti ini. Obrolan kami pun berlanjut dengan bahasan yang lebih santai dan banyak diselingi candaan dan tawa.

Setelah selesai berdikusi dan melepas penat, kami pun kembali ke kamar masingmasing. Setibanya di kamar akupun langsung membersihkan diri dan berganti baju tidur. Tak berapa lama memejamkan mata, tibatiba aku terbangun karena mendengar televise yang tibatiba menyala.

Aku pun kaget karena melihat remote yang masih tergeletak di atas meja kecil disampingku. Awalnya aku hanya menganggap ini adalah kebetulan dan kembali mematikan televise tersebut dan kembali memejamkan mataku. Namun kembali aku terbangun akibat suara televise yang kembali menyala.

Aku yang memang penakut sejak kecil, mulai merasa takut. Ku pandangi seluaruh isi hotel yang tibatiba terlihat seram. Mungkin karena aku yang penakut, aku mulai merasakan bulu kuduku merinding. Dengan cepat aku raih handphone di samping tempat tidurku dan menelefon suamiku. Namun setelah beberapa kali panggilan, tidak ada juga jawaban dari suamiku.

Semakin lama rasa takutku semakin menjadijadi, dan aku tidak bisa tidur. Ku lihat jam di meja sudah menunjukan jam 00.30, namun aku juga belum bisa tidur karena masih dilanda rasa takut. Tidak biasanya aku mengalami hal ini, kali ini memang sungguh lain.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Pak Simon yang berada disebelahku. Aku sadar betul kalau itu akan mengganggu waktu istirahatnya, namun aku sudah tidak punya jalan lain.

Halo.. Ada apa Rin?, tengah malam begini Tanya suara yang berasal dari handphoneku

Eh..anu Pak.. Bapak sudah tidur? Maaf nih saya jadi ganggu.. Begini pak.. Aku pun mulai menjelaskan kejadian yang baru saja aku alamai dan alasanku meneleponnya tengah malam begini.

Kamu kebanyakan nonton film horror saja Rin.. Ujar Pak Simon menenangkanku dengan nada sudara mengantuk.

Tapi pak.. saya tidak berani sendirian dikamar..

Lalu..?

Eh..anu pak.. kalau boleh saya numpang tidur di kamar bapak malam ini saja.. Pintaku memohon.

Yasudah.. kalau kamu maunya begitu

Eh.. boleh pak?

Sudah.. cepat kalau mau kesini.. saya mengantuk sekali

Babaik pak

Setelah menutup telepon aku pun langsung memakai kembali pakaian dalam yang sempatku lepas sebelum tidur. Karena tanpa Bh, putting payudaraku akan terlihat menonjol di balik dasater tipis yang kini aku kenakan. Tidak lupa aku kembali mengenakan penutup kepala dan sweater untuk menutupi lenganku yang tidak tertutupi daster tanpa lengan.

Dan aku pun membunyikan bell kamar Pak Simon, dengan wajah mengantuk Pak simon yang saat itu mengenakan kaus putih polos dan celana pendek, terlihat sedikit terbengong melihatku saat membuka pintu. Mungkin karena wajahku yang tanpa makeup fikirku.

Setelah mempersilahkan aku masuk Pak Simon langsung mengunci kembali pintu kamarnya. Kamu nih tumben ketakutan, tidak seperti biasanya Ujar Pak Simon

Maaf Pak.. saya juga heran.. sepertinya ada yang aneh dengan kamar itu

Sudahsudah.. sekarang lebih baik kamu tidur, karena besok jadwal kita masih sibuk

Eh..iya pak Jawabku yang menjadi meraasa tidak enak sendiri, dan masih berdiri terpaku di kamar Pak Simon.

Setelah rasa takutku perlahan mulai menghilang, tibatiba aku tersadar kalau kini aku harus tidur seranjang dengan Bosku. Tapi biarlah ini lebih baik dari pada tidak bisa tidur semalaman, lagian Pak Simon tidak pernah bersikap kurang ajar dan selalu menghormatiku sebagai seketarisnya.

Dengan mencoba berfikir positif aku mulai merebahkan diriku disamping Pak Simon yang sudah terlebih dahulu tidur membelakangiku. Baru kali ini aku merasakan tidur seranjang dengan pria yang bukan suamiku. Walaupun keberadaan Pak Simon membantu menghilangkan rasa takutku, namun perasaan adanya pria lain disampingku sunggu tidak bisa ku hilangkan begitu saja.

Rin.. Kamu sudah tidur? Tanya Pak Simon yang tidur membelakangiku.

Be..belum.. Jawabku.

Mendengar jawaban dariku, tibatiba Pak Simon membalikan badannya kearahku. Kamu masih takut? Tanyanya dengan lembut.

Ti..tidak Pak.. Saya hanya menjadi tidak enak mengganggu bapak malammalam begini Jawabku sambil menoleh kearahnya. Tentu saja aku berbohong karena bukan itu alasan utama aku belum juga bisa memejamkan mataku.

Kenapa harus tidak enak..saya malah senang bisa ditemani kamu Jawab Pak simon

Maksud Bapak? Tanyaku tidak mengerti.

Yah.. ini seperti mimpi jadi kenyataan Ujar Pak Simon dengan tatapan penuh arti.

Maaf pak.. saya tidak mengerti maksud Bapak

Rin.. kalau boleh saya jujur, Saya sangat senang dengan cara kerja kamu yang rajin dan ulet. Tapi

Tapi pa pak?

Hmm.. Pak Simon pun menghela nafas panjang.. Begini loh rin.. sudah hampir dua tahun belakangan ini waktu banyak menghabiskan waktu bersama kamu.. Entah mengapa saya semakin lama semakin mengagumi mu Ujar Pak Simon dengan lembut.

Maaf Pak.. saya masih tidak mengerti maksud perkataan Bapak.Perkataan Pak Simon membuatku sunggu tidak dapat menemukan katakata yang tepat untuk menanggapi katakatanya.

Kamu cantik Rin, pintar, rajin, jujur dan senang tiasa menemani saya Jujur saja sebagai pria normal saya mulai menaruh perasaan kepadamu.

Mendengar pujian dan pengakuan Pak Simon yang terlihat tulus, membuatku merasa kaget. Walau sebenarnya diriku juga mengagumi sosok Pak Simon yang tegas dan berwibawa, namun itu hanya sebatas sebagai atasan dan panutan. Sehingga pengakuan Pak Simon tentang perasaannya kepadaku sunggu membuatku terkejut dan tidak tahu harus bagaimana.

Sebenarnya bisa saja aku menamparnya dan menolak perasaanya, karena setatus kami yang bukan lagi single. Namun aku benarbenar bingung harus merespon seperti apa. Bukan karena setatusnya sebagai atasanku, sehingga aku takut akan dipecat bila menolah dan memakinya saat ini. Namun Pak Simon terlalu baik dan bayak berjasa untukku, dan aku sama sekali tidak ingin menyakitinya.

Pak.. Saya mengerti.. mungkin ini karena kita yang sudah sering bersama, saya rasa itu hal yang wajar karena saya juga mengagumi bapak, namun Bapak kan tahu kalau saya sudah memiliki suami dan anak, begitupun dengan bapak Jelasku dengan sangat hatihati.

Iya.. Rin saya juga berfikir demikian, terima kasih kamu sudah tidak marah dan mau mengerti.. Maafkan kelancangan saya Balas Pak Simon

Tidak perlu minta maaf pak.. Mungkin saya yang sebaiknya lebih menyadari posisi saya dan mulai menjaga jarak dengan Bapak Ujarku merasa bersalah melihat ekspesi wajah Pak Simon.

janganjangan,.. Menjaga jarak hanya akan membuat saya merasa bersalah dan lebih menyesal..

Baiklah Pak.. Saya mohon maaf karena tidak bisa membalas kebaikan perasaan Bapak

Tidak apaapa Rin. Itu salah saya yang tidak bisa menahan diri terhadap wanita sebaik dan secantik kamu..

Jujur saja pujian yang terus Pak Simon ucapkan, entah mengapa begitu mengena dihatiku. Dan hati kecilku malah merasa bersalah karena menolak perasaan Pak Simon.

Rin.. Boleh saya meminta sesuatu yang sepertinya agak berlebihan? Tanya Pak Simon dengan tatapan yang dalam.

Meminta apa pak.. ?kalau saya bisa pasti akan saya akan saya lakukan

Boleh saya melihatmu tanpa mengenakan penutup kepala? Mohon Pak Simon memelas.

Entah mengapa walau tahu betul itu adalah sebuah permintaan yang tidak layak diucapkan kepada wanita berhijab sepertiku. Aku sunggu tidak bisa membuat Pak Simon lebih kecewa dan menetapkan diri untuk memenuhi permintaannya.

I..ya..bo..boleh.. Jawabku dengan sedikit gemetar

Aku pun bangkit terduduk dihadapan Pak Simon yang terus menatapku. Dengan jantung berdebar, pelahan akupun meraih ujung penutup kepalaku dan menariknya melewati leher jenjangku yang mulus dan putih.

Setelah penutup kepalaku terlepas, aku melihat wajah Pak Simon yang terlihat terpesona menatapku. Seketika aku merasa pipiku panas menahan malu, karena belum ada pria lain selain ayah dan suamiku yang melihatku tanpa penutup kepala. Kini Pak Simon pasti sudah dapat melihat rambut hitamku yang selalu dipotong sebatas punduk.

Kamu cantik Rin.. sungguh benarbenar cantik Puji Pak Simon

Jangan dilihatin terus pak, saya malu..

Maafkan Bapak Rin, tapi kamu benarbenar cantik Boleh Saya menecup keningmu sebagai tanda sayang?

Aku yang mulai terbuai dengan pujiannya, hanya mampu mengangguk lemah dan tidak mampu menolak permintaanya. Dengan perlahan Pak Simon bangkit dan menatap wajahku dalamdalam.

Dengan amat perlahan Pak Simon mengarahkan wajahnya mendekati wajahku. Sementara aku hanya mampu terpejam pasrah. CUP Aku pun merasakan sebuah kecupan yang penuh dengan kasih sayang di keningku. Bibir Pak Simon terasa begitu basah di dahiku.

Terima kasih Rin.. Saya senang sekali saat ini..

Sasat membuka mataku, aku dapat melihat raut bahagia Pak Simon, yang terpampang di hadapanku.

Kita tidur saja Rin.. besok kita harus bangun pagi..

Aku pun kembali merebahkan tubuhku yang masih terasa gemetar. Dengan sengaja aku tidak mengenakan kembali penutup kepalaku. Aku berfikir mungkin itu bisa membalas sedikit rasa bersalahku karena telah menolak perasaan Pak Simon, yang selalu baik terhadapku.

Kami pun tidur dengan saling berhadapan, aku dapat melihat jelas kalau mata Pak Simon terus memandangi wajahku. Sampai entah kenapa ide itu muncul.

Pak.. Kalau bapak mau.. bapak boleh kok pegang tangan saya

Benar boleh RIn? Tanyanya memastikan apa yang aku ucapkan.

Aku pun mengangguk sambil tersenyum.Iya boleh

Dengan amat lembut aku merasakan, jemari gemuk tangan Pak Simon mulai menggenggam tanganku. Entah kenapa aku langsung merasakan kenyamanan ketika tangan Pak Simon menggenggam tanganku, dan akupun tanpa sadar tertidur lelap.

Esok paginya aku terbangun lebih dulu, walaupun sempat kaget saat melihat pria lain yang tidur disampingku. Dengan perlahan aku melepaskan tanganku yang masih berada di genggaman tangn Pak Simon.

Kamu sudah bangun Rin? Tanya Pak Simon yang ikut terbangun.

Su..sudah pagi pak.. saya mau kembali ke kamar untuk bersiapsiap

Yasudah.. nanti saya tunggu di bawah.. Balas Pak simon.

Dengan segera aku bangkit dan kembali kekamarku untuk mandi dan bersiapsiap. Tidak lupa aku memberikabar kepada suamiku. Aku sungguh bersyukur karena tadi malam tidak terjadi apaapa, walau katakata Pak Simon masih terngiang di fikiranku.

Setelah mandi dan siapsiap aku pun segera turun ke lobi untuk menyusul Pak Simon. Dan seperti biasa dia sudah siap menunggu di lobi.

CUP kamu cantik sekali pagi ini Rin.. Ucap Pak Simon yang tibatiba mengecup pipiku.

Walau sedikit terkejut menerima perlakuan yang sedikit berani dari Pak Simon. Aku merasa tidak keberatan dan membalasnya dengan sebuah seneyuman manis.

BapakBikin kaget saja.. gak enak nanti diliat orang .. Ucapku

Hahahha Sudahsudah.. mari kita berangkat

Kami pun kembali melanjutkan pekerjaan kami disana. Namun setelah malam itu, perlakuan Pak Simon kepadaku sedikit berubah. Aku merasakan kalau Pak Simon menjadi lebih perhatian ketimbang biasanya. Dan selalu melemparkan senyum ketika kami saling pandang. Walaupun sedikit merasa aneh, aku tidak ingin terlalu mengambil pusing, dan berusaha bersikap wajar seperti bisa. Bahkan sesekali Pak Simon berani merangkul pinggangku yang langsing, tentu saja aku menepisnya sehalus mungkin.

Setelah selesai dengan segala urusan pekerjaan, Kami pun kembali ke hotel. Sore itu Aku, aku langsung meminta untuk pindah kamar, namun sayang semua kamar sudah penuh karena wisatawan di bali sedang ramai saat ini. Jadi mau tidak mau aku harus kembali bermalam di kamarku semalam.

Dengan sedikit rasa takut, aku memberanikan diri untuk sekedar membersihkan diri dengan mandi dan berganti pakaian. Seperti biasa aku dan Pak Simon makan bersama di restoran hotel. Dam setelah itu kami pun kembali ke kamar masingmasing.

Rin.. Kalau kamu takut.. kamu boleh menginap dikamar saya lagi..

Oh.. yang benar Pak..?.. Jujur saja saya juga masih takut tidur di kamar ini.. Jawabku yang sedari tadi mengharapkan kalimat itu terucap dari Pak Simon.
Setelah menghubungi anak dan suamiku, aku bersiap untuk pindah ke kamar Pak Simon.Dan entah mengapa aku ingin berpenampilan baik di depan Pak Simon, oleh karena itu aku menyempatkan diri untuk sekedar bercermin melihat penampilanku. Ku lihat wajahku yang terap cantik tanpa makeup. Dan aku pun mengenakan pakaian yang sedikit memamerkan bnentuk tubuhku. Entah mengapa aku begitu senang ketika Pak Simon memuji penampilanku.

Dengan tetap mengenakan penutup kepala model santai. Aku kini mengenakan sebuah legging panjang hitam dan kaus putih berlengan panjang. Tidak lupa aku mengenakan parfum.

Setelah sampai didepan pintu kamar Pak Simon akupun langsung menekan bell, yang langsung disambut dengan membukakan pintu kamarnya.

Mau nginap sama Bapak lagi Rin.. Ledeknya.

Maaf yah pak.. ngerepotin terus Ujarku memasang wajah bersalah

Sudahsudah.. silahkan masuk

Aku pun masuk ke dalam kamar Pak Simon. Sebenarnya aku sadar betul kalau tidak pantas bagi seorang wanita dewasa bersuami sepertiku harus berduaan dengan atasannya. Namun dengan mengatas namakan rasa takut tidur sendiri aku mencoba membenarkan apa yang aku lakukan ini.

Kalau bapak merasa terganggu saya tidak apaapa kok tidur di sofa.. Ujarku yang merasa tidak enak.

Gak apaapa kok nih kamu mau susu cokelat panas? Ucap Pak Simon sambil menyodorkan segelas cokelat panas ke padaku.

Te..terima kasih pak Aku pun meraih cokelat panas tersebut dan mulai meminumnya.

Denga ditemani segelas susu panas kami pun mulai berbincangbincang sambil duduk diatas tempat tidur. Dan beberapa kali aku mendapati mata Pak Simon yang terus mencuricuri pandang ke arah dadaku yang sedikit tertutup penutup kepala. Entah mengapa aku malah merasa senang saat Pak Simon memperhatikan tubuhku.Dan entah setan dari mana tibatiba aku pun mulai gelap mata.

Pak.. Bapak mau liat ini? Tanyaku sambil menunjuk payudaraku.

Ehh.. saya ti..tidak bermaksud.. Jawab Pak Simon gelagapan

Maaf.. Pak.. dari tadi saya lihat mata bapak ngelirik ke dada saya terus.. Kalau bapak mau liat bilang saja.. asal tidak perlu melepas pakaian, saya tidak keberatan kok

Ka..kamu serius Rin..?

He..em Jawabku menganggukan kepala

Boleh saya?

Tapi liat dari luar aja loh pak Ujarku sambil mengangkat penutup kepala yang menutupi bagian dadaku.

Pak Simon pun mulai menatap langsung ke arah payudaraku yang hanya bebalut kaus tipis dan Bh didalamnya. Dengan melihat ekspresi wajah Pak Simon, Akupun mulai merasakan sensasi rasa malu bercampur rasa aneh yang terus mendorongku

Rin walaupun hanya melihat dari luar.. sudah dari lama saya mencuricuri pandang untuk melihat payudaramu ini seperti mimpi saja Ucapnya senang.

Akupun melihat Pak Simon mulai mengarahkan tangannya ke depan payudarahku. boleh saya?

aku pun hanya bisa mengangguk kecil, Degan perlahan tangan tersebut semakin mendekati payudaraku. Aku yang tidak kuat menahan rasa malu, hanya mampu terpejam menunggu sentuhan tangan Pak Simon.

Dan akhirnya akupun dapat merasakan tangan Pak Simon menyentuh payudaraku. Dengan lembut tangan tersebut mulai bergerilya mengusapusap payudaraku. Rasa geli bercampur risih mulai menyelimutiku yang tidak sanggu melihat apa yang terjadi dengan payudaraku.

Lamakelamaan, usapan tersebut mulai berubah menjadi remasan lembut yang terasa begitu nikmat. Dengan perlahan Pak Simon mulai merebahkan tubuhku yang mendadak lemah ke atas kasur.

Dan aku pun terkejut, ketika merasakan lumatan di bibirku. Dengan segera aku membuka mataku, dan benar saja wajah Pak Simon berada tepat dihadapanku sambil melumat bibirku dengan ganas.

Melihat ekspesiku yang terkejut, Pak Simon pun tersentak menarik tubuhnya menjauhiku.Maafkan saya Rin, saya tidak bermaksud seperti ini Ucapnya dengan wajah bersalah.

Bukan Pak.. Ini bukan salah siapasiapa. Semenjak bapak mengatakan perasaan bapak kepada saya, saya sungguh merasa bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk bapak. Padahal saya sadar kalau bapak telah banyak membantu hidup saya.

Maksud kamu..?

Iya Pak, Saya sangat mengagumi sosok bapak sebagai atasan saya, saya sungguh tidak ingin membuat Bapak kecewa. Bahkan bila harus memberikan tubuh saya

Karina.. Panggil Pak Simon dengan yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.

Dengan senyum dan air mata yang mulai menetes di pipiku, aku memberanikan diri meraih telapak tangan Pak Simon dan menaruhnya di payudaraku.Maaf Pak, biarkan seketaris mu ini untuk terus melayani anda, dan membalas segala kebaikan Bapak Ucapku dengan lirih dan air mata.

Terima kasih Rin.. Ucap Pak Simon yang langsung mendekatkan dirinya kepadaku.

Dengan perlahan dia langsung merangkul pundakku dan melumat bibirku. Tangannya pun mulai meremas payudaraku. Cumbuan Pak Simon mulai membuatku terhanyut, dan merespon dengan membuka bibirku, membiarkan lidahnya yang basah bermain di dalam mulutku.

Sampai tibatiba aku merasakan tangan gemuk Pak Simon terus turun dan meraih bagian bawah tubuhku. Aku pun terkejut dan langsung melepaskan ciumannya serta menahan pergelangan tangan Pak Simon, Pak saya mohon, jagan lebih dari ini.. pintaku.

Maaf Rin.. tapi saya sangat ingin melihat keindahan dibalik tubuhmu yang selalu tertutup

Ucapan Pak Simon membuatku yang sudah mulai dilanda biarahi , menjadi bimbang. Walaupun telah memberikan kesempatan kepada Pak simon untuk menjamahku. Tapi maksudku tidak lebih dari ini. Aku sangat hawatir kalau ini akan semakin membuatku terbawa.

Pak saya mohon jangan, saya tidak ingin menghianati suami saya lebih dari ini Jelasku mencoba mengelak.

Baik Rin, tapi saya sudah sangat bernafsu saat ini.. Ujar Pak Simon memelas.

Fikiranku pun kembali berkecambuk, sebenarnya cumbuan Pak Simon. Aku pun mulai terdiam membisu karena tidak tahu harus berbuat apa. Namun Pak Simon terus saja merayuku dengan segala cara,di mengatakan kalau hany ingin menggesekan penisnya di vaginaku dan hanya sebatas itu.

Tapi saya ingin melepas Bh saya Paling tidak payudaraku masih bisa ku jaga fikirku.

Baik RIn.. silahkan buka penutup kepala dan pakaianmu. Perintahnya tidak sabar.

Aku pun bangkit dari tempat tidur, dan mulai melepaskan penutup kepala dan pakaianku. Hingga terpampanglah tubuh mulus putihku yang selama ini terus ku tutupi dibalik pakaianku yang tertutup.

Sambil berusaha menutupi kedua payudara dan pangkal pahaku yang tentu saja percuma. Aku pun merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur. Dengan gemetar aku menunggu Pak Simon yang saat ini terlihat sedang begitu menikmat memandangi setiap inci tubuhku.

Kamu memang sangat cantik Rin.. Sudah saya duga tubuhmu begitu bersih dan mulus Ucapnya tanpa berkedip.

Cepat Pak selesaikan Pintaku yang sekuat tenaga menahan rasa malu dan jantungku yang terus berdebar kencang.

Pak Simon pun mendekatkan tubuhnya di sampingku, dan mengecup bibirku. Setelah memberikan kecupan singkat dibibirku. Pak simon langsung membenamkan kepalanya di sela payudaraku yang masih terutup BH putih. Membuatu merasa kan sensasi geli, ketika bulu kasar di wajah pak Simon menusuknusuk kulit payudaraku.

Sementara aku memutuskan untuk menutup kedua mataku, karena tidak kuasa menilhat tubuhku dicumbu oleh pria lain selain suamiku. Sambil meremas erat seprei tempat tidur, aku berusaha mengontrol diri ku, Karena kini aku mulai merasakan kecupan Pak Simon yang terus turun dari Payudara hingga kini di perutku.

Aku yang tak kuasa menahan geli mulai menggeliatkan tubuhku sambil tetap memejamkan mata. Dan jantungku pun semakin berdebar kencang saat merasakan ciuman Pak Simon kini mulai mengarah dan terus turun ke pangkal pahaku.

Setelah sampai tepat di vaginaku. AKu pun dapat mendengar suara endusan Pak Simon yang menghirup nafas dalamdalam menikmati aroma vaginaku yang sepertinya mulai basah.

Punya kamu wangi sekali Rin.. Ujar Pak Simon sambil sesekali memberikan kecupan tepat di atas vaginaku yang masih tertutup calana dalam tipis.

Sampai tibatiba aku merasakan sesuatu yang basah mullai menggelitik tepat di vaginaku yang tertutup celana dalam tipis, Dan bisa aku tebak itu adalah lidah Pak Simon. Menerima rasa geli tersebut aku pun refleks menjepit kepala Pak Simon dengan kedua pahaku, agar menghentikan gerakan lidahnya yang semakin terasa geli bercampur nikmat.

Dengan perlahan aku dapat merasakan kedua tangan gemuk Pak simon meraih pinggiran celana dalamku. Mengerti apa yang akan dia lakukan aku pun mulai meringis sambil terpejam, dengan kedua tanganku semakin kuat meremas seprai.

Perlahanlahan aku pun mulai merasakan celana dalamku terus turun melewati kakiku. Rasa dingin udara AC kamar pun mulai terasa membelai vaginaku yang basah. Dan setelah berhasi meloloskan celana dalamku. Pak Simon langsung menekuk kakiku dan membuatnya mengangkang.

Walaupun dengan mata terpejam, aku tahu persis kalau kini vaginaku yang ditumbuhi bulu lebat telah terpampang jelas di hadapan Pak Simon. Dengan segenap hati aku pun mempersiapkan diriku untuk menerima apa yang akan Pak Simon lakukan dengan vaginaku.

Sampai cukup lama aku merasakan dinginnya Ac di vaginaku, namun belum ada pergerakan dari Pak Simon. Karena merasa heran aku pun mencoba perlahanlahan membuka mataku untuk melihat posisi Pak Simon.

Alangkah terkejutnya aku, ketika melihat Pak Simon yang ternyata baru saja melepaskan celana dalam, yang menjadi satusatunya pakaian terakhir ditubuhnya. Kini Aku pun Dapat melihat tubuh Gemuk Pak Simon telah telanjang bulat. Di antara lipatan perut dan pahanya, aku dapat melihat penis Pak Simon yang terlihat ereksi maksimal namun masih jauh lebih kecil dibandingkan kepunyaan suamiku.

Dengan perlahan aku melihat Pak Simon mengarahkan penisnya ke depan bibir vaginaku yang kini terpampang jelas karena posisiku yang mengangkan.

Pak.. Saya mohon, Hanya digesek saja.. tidak lebih Pintaku yang panik ketika melihat penis kecil Pak Simon semakin mendekati vaginaku.

Pak Simon pun hanya membalas dengan anggukan kepala dan tatapan tajam kea rahku. Aku pun kembali memejamkan mataku menunggu sentuhan penis Pak Simon di vaginaku. Sampai tibatiba aku merasakan sentuhan di vaginaku yang tentu saja itu adalah penis Pak Simon. Dengan lihai ia mulai menggesek seluruh celah vaginaku, bahkan tanpa sadar desahan mulai keluar dari mulutku.

Aku yang mulai menikmati gesekan penis Pak Simon, sudah tidak memperdulikan lagi saat merasakan kepala penis Pak Simon sesekali hampir masuk kedalam lubang vaginaku. Bahkan tubuhku mulai merespon dengan menggeliatgeliat merasakan sentuhan penis Pak Simon di vaginaku.

Rin? Panggil Pak Simon sambil tetap menggesek penisnya di permukaan vaginaku.

AHh.. iya Pak.. bapak sudah mau keluar? Jawabku lirih karena menikmati gesekan tersebut.

Belum Rin.. saya ingin merasakan jepitan milikmu Ujar Pak Simon diselingi nafas yang memburu.

Ri..ririn juga mau pak, tapi Saya tidak ingin menghianati kepercayaan yang di berikan suami saya..jawabku yang sudah dilanda birahi

Sudah terlambat Rin.. kita sudah sampai sejauh ini.. Dan lagi saya jamin, ini sama sekali tidak akakn merusak rumah tanggamu.. Rayu Pak Simon sambil mulai menusuknusukan penisnya di lubang vaginaku.

Sementara aku diam dan mencoba berfikir, Aku dapat merasakan penis Pak Simon terus bergerak masuk kedalam vaginaku. Memberikan berjuta rasa nikmat di setiap permukaan dinding vaginaku.

Rin.. bagainamaboleh saya? Tanya Pak Simon lagi

Bagaimana apanya pak.. punya bapak sudah masuk.. mau bagaimana lagi..Jawabku yang hanya bisa pasrah.

Mendengar jawaban ku, Pak Simon hanya tersenyum dan mulai menggerakan penisnya di dalam vaginaku. Aku yang sudah terjebak sampai sejauh ini pun mulai mencoba menikmati bersetubuhan terlarang ini. Dengan tanpa raguragu lagi desahan dan jeritan mulai keluar dari mulutku, mengiringi hentakan penis Pak Simon yang semakin bernafsu.

Tangan gemuk Pak Simon pun mulai menggapai tali Bhku.. Boleh saya lihat tubuh indahmu sutuhnya Rin Dengan cepat aku pun mengerti kalai dia ingin aku melepas BH yang kini menjadi satusatunya penutup tubuhku.

Setelah memberi respon dengan anggukan, aku pun mulai meraih pengait Bh di pundaku. Dengan perlahan aku pun mulai melepaskan Bhku. Membuat Pak Simon terlihat begitu terpesona menatap ke arah payudaraku yang kini terpampang bebas di hadapannya. Sementara rasa malu karena bertelanjang bulat di depan atasanku, malah membuat vaginaku semakin basah.

Payudara kamu indah sekali Rin Racu Pak Simon menatap kagum kea rah tubuh telanjangku yang selalu tertutup.

Dengan ganas Pak Simon langsung menghisap putting kecoklatanku yang menyembul diantara payudaraku. Lidah kasar dan basah Pak Simon mulai menggelitik kulit putingku yang terasa semakin sensitif.

awhhh pakyang satunya juga Ujarku sambil menyodorkan payudaraku yang satunya.

Tentu saja Pak Simon langsung merespon dengan berpindah menghisap puttingku yang satunya. Membuatku tidak kuasa menahan rasa geli bercampurnikmat, hingga tanpa sadar kedua tanganku menjambak rambut Pak Simon agar dia lebih lama bermain dengan putingku.

Aku pun tak kuasa lagi menahan orgasmeku, AAAHHHKKKhhhPAK..aku..aku..aahhhkkkkhh Jeritku merasakan gelombang orgasme yang begitu nikmat.

Sementara Pak Simon pun malah mempercepat kocokan penisnya di vaginaku yang terasa sensitif setelah orgasme. Dan Croootttt.croootttcrooottt Aku pun merasakan beberapa semburan hangat di dinding vaginaku.

Setelah mengalami orgasme, tibatiba tubuh Pak simon yang penuh dengan keringat ambruk ke atas ubuhku. Dengan perlahan penisnya yang semakin mengecil, terlepas dari jepitan vaginaku. Diikuti lelehan seperma yang mengalir keluar dari dalam lubang vaginaku.

Setelah kembali mengatur nafas kami, Aku pun merangkul lengan gemuk Pak Simon dan mendekapnya diantara sela payudaraku yang basah oleh keringat. Dengan sayu aku pandangi wajah penuh kepuasan dari atasanku itu.

Dengan lembut Pak Simon mulai mengusap rambutku yang selalu tertutup hijab, terima kasih Rin..Sudah mau mengerti.. Ucap Pak Simon diikuti kecupan di dahiku.

Entah mengapa aku mulai meraih penis Pak Simon yang kini hanya sebesar Ibu jari. Pak.. Ririn sayan sama Bapak Ucapku sambil membelai penis kecil Pak Simon.

Saya juga sayang sama kamu Rin..

Lengan Pak Simon sungguh terasa empuk dan hangat di pelukanku, membuatku merasa nyaman dan mulai tertidur . Biarlah apa yang akan terjadi nantinya, aku hanya ingin menikmati kenyamanan yang aku rasakan saat ini.

Pengalaman KarinaDinas keluar kota cerita sex, cerita ngentot, cerita mesum dan cerita dewasa tante, sedarah, spg, daun muda, setengah baya, abg, remaja, pramugari, pembantu, bispak, mahasiswi, pelajar, lesbi dan banyak lagi lainya kategori cerita terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here