Dosa itu Terus Berlanjut

0
22

Dosa itu Terus Berlanjut

WANITA MUDA – Gua masihlah sendiri dikamar tina menunggu ia menemui temannya. Gua gak ingin ikut turun. Gua merasa masihlah ada momentum untuk mesum. Sambil tiduran menunggu beliau datang, gua merabaraba kejadian yg bakal berlangsung. Ibaratnya, menyusun set, bakal seperti apa adegan mesum mula-mula gua kelak. Kalo gua tiduran dikasur gini, trus beliau buka pintu liat gua, tentu ia gak ingin masuk. Mending gua ngumpet lalu dibelakang pintu, disaat ia buka pintu, ga liat ada gua, automatic dirinya masuk. selanjutnya gua sergap dari belakang, sambil menghadap ke cermin, gua doggy. Cakep..

Gua bangun dari kasur. Tina bbm gua, ayo, pulang. Turun, cepetan! Gua bales, yaudah, naik dulu aja, kali. Setelah eyeleyelan beberapa saat, terdengar suara langkah orang berjalan menuju kamar. Nah, ini diaa.. Batin gua, dan segera gua ngumpet dibelakang pintu, sesuai adegan yg sudah gua set di dalam pikiran tadi. Dan, benar saja, pintu kamar terbuka. Gua bersiap menyergapnya. Tapi kepala yang keluar dari balik pintu, bukan kepala yang sebelumnya mengulum si ariel. Sial, tina nyuruh temennya untuk menjemput gua dikamar.

Gua pun turun dengan berat hati. Tina sudah menunggu gua di dekat motor. Senyamsenyum, cengengesan. Wajahnya seolah bicara, whats up, bro.. Gak sesuai kah, rencana bejat lu? Gua membalasnya dengan senyum getir penuh kekalahan. Stater motor, dan kami berangkat. Kesempatan berikutnya tak akan sama seperti yang sudahsudah, nona.. Bisik gua sambil meliriknya dari kaca spion. Dia masih tersenyum penuh kemenangan.

Sepanjang jalan menuju rumah, kami bak sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Tina memeluk gua tanpa sungkan sedikit pun. Sesekali memajukan wajahnya, kami pun saling bertatapan. Duh, romantisnya..

Eh, aku kok degdegan kan ya mau kerumah kamu.. Katanya.
Kenapa? Jawab gua datar. Seolah gak tau maksud omongannya. Padahal gua tau betul, degdegan dia itu timbul dari rasa bersalah yang kita lakukan. Sebentar lagi gua dan tina akan berada dalam lingkungan atau kondisi yang membuat kita harus tau bagaimana bersikap layaknya saudara, bukan layaknya sepasang kekasih yang selama ini kita rasakan dan jalani.
Aku takut, lho.. Katanya, sambil menempelkan wajahnya dibahu gua. Gua gak merespon. Bukan, bukan karena sikap abnormal gua yang mendadak hilang, tapi karenaa. Macet, nyet! Tau sendiri, jalanan ibu kota di jam pulang kerja. Haha.

Aku takut ga bisa bersikap normal. Aku canggung. Grogi mau ketemu ibu bapakmu.. Lanjutnya. Gua cuma merespon singkat, layaknya sudah punya pengalaman perbuatan bejat ribuan kali. Santai aja.. Kalo ga bisa santai, nanti aku santaiin. Sambil mengelus mesra pahanya yg menjempit pinggul gua. Sedap.

Sesampainya dirumah. Keluarga gua sudah siap menantikan kedatangan kami. Tina langsung membaur, bersikap sebagaimana biasanya yang dia lakukan bila bertemu keluarga gua. Bokap dan nyokap gua tampak senang sekali oleh keberadaan tina dirumah, pun begitu dengan kakak perempuan gua.

Mereka bercengkrama dengan hangat. Penuh keakraban. Oh, indahnya persaudaraan. Bagaimana dengan gua? Gua? Hanya sesekali ikut nimbrung dalam obrolan mereka ketika nama gua di mention. Tina dan keluarga gua berada diruang keluarga tempat biasa gua nonton tv. Sedangkan gua memilih berada dikamar. Gua memberikan waktu untuk tina dan keluarga gua melepas kerinduan mereka.

Hari semakin malam. Sesekali gua melongok ke ruang keluarga. Masih tampak, tina, bapak, dan ibu gua sedang berbincang, meski tidak sehot satu dua jam sebelumnya. Saat gua memantau mereka, bokap pamit hendak tidur duluan. Tinggalah, tina dan ibu gua, mereka tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius. Berbicara heart to heart. Gua pun kemudian kembali ke kamar.

Malam semakin larut. Gua pun sudah mengunci kamar gua. Bukan, bukan ingin beranjak tidur. Baru jam 1, gua mana bisa tidur. Gua mengunci kamar, karena ingin onani. Haha.

Lho, onani? Tina? Apakah itu pertanyaan yang ada diotak mesum kalian? Sorry, guys. Tampaknya kalian akan kembali kecewa, karena sepertinya tina sudah tidur dikamar kakak perempuan gua. Karena terakhir, sebelum gua mengunci pintu kamar, sudah tidak ada satu makhluk pun diruang keluarga. Nasib.

Tapi iblis berkata lain. Centrung.. Ada wasap masuk ke hp gua.

Gua gak menggubris. Sedikit pun gak menoleh apalagi menyambar hp di meja belajar. Paling cecunguk2 penghuni grup alumni nyari temen ngobrol. Batin gua. Gak penting. Karena ada sesuatu yang jauh lebih penting: gua sedang ditengah perjalanan menuju crot. Fokus menyaksikan dan mendengarkan desahan Cut Tari. Yakali, hari gini bahannya masih bahan lawas aja. Hahaha.

Centrung..
Centrung..
Ping..
Ping..
Ping..
Crot!

Aaahhh

Gua raih hp gua dengan sisasisa protein yang baru saja terbuang. Malas sebenarnya, meladeni pesan ditengah malam begini. Jam menunjukkan sebentar lagi pukul 2 pagi. Kata nyokap, jamjam segini setan lagi berkegiatan. Ibaratnya, happy hoursnya setan lah, begitu. Gua lirik hp gua dengan malas, takuttakut ada yang kirimkirim gambar serem. Dan bener aja, notifikasi wasap dan bbm yang gua liat bahkan lebih serem dari yang gua bayangkan. Seketika perasaan gua campur aduk.

Yo..
Udah tidur?
Aku ga bisa tidurrrrr

Gua langsung buka pintu kamar dan menengok ke arah ruang keluarga, berharap si pemberi pesan masih menunggu. Dan, yap! Yeay! Tina ada diruang keluarga, nonton tv, sendirian.

Cerita Dewasa Daun Muda Episode II bagian II

Sebelumnya, mari gua tunjukkan sejenak, seperti apa ruang keluarga di rumah gua. Panjangnya, sekitar 20 meter dengan lebar sekitar, 7 meter. Ruangan ini dibagi menjadi 2 bagian. Sebentarnya 3, tapi bagian terakhir tidak perlu kita hitung karena hanya memakan space sekitar 1,5 meter, berfungsi sebagai penghubung antara ruang tamu dengan ruang yang sedang kita bahas ini.

Pada bagian ini terdapat lemari atau bupet yang berfungsi ganda. Selain untuk menutup jarak pandang dari ruang tamu juga untuk menaruh peralatan elektronik, foto, piagam, buku, dan prentelan lainnya. Kembali ke ruang keluarga. Ruangan ini, di sekat menjadi 2 bagian. Satu bagian sebagai ruang tv, dan satunya lagi sebagai ruang makan, karena terdapat meja makan, masa sihh. Sedangkan bagian di ruang tv terdapat sofa yang bentuknya sedikit melingkar. Dengan panjang ukuran sekitar 3 meter, terdapat persis di depan tv. Sofa ini punya sebutan. Yaitu, sofa surga. Karena saat siapa saja yang sudah duduk, apalagi rebahan di sofa ini, dijamin urusan duaniawinya akan terlupakan sejenak.

Oke. Cukup menggambarkan ruangan keluarga gua. Sungguh penjambaran yang sangat tidak penting. Sekarang, mari gua perlihatkan kenikmatan dunia di sofa surga.

***

Taukah kalian, bahwa, wasap yang gua terima dari tina, tidak terbaca sebagaimana yang tertulis. Gua bacanya seperti ini,

Yo..
Ngensbray yuk..
Ayok, Yo, Sange niiihh..

Gua langsung keluar kamar. Setelah melihat tina yang sedang berdiri di samping tv, gua pergi ke kamar mandi. Membersihkan ariel yang baru saja melakukan kegiatan yang siasia. Cuci muka, sikat gigi, dan melangkah pasti menuruni anak tangga menghampiri tina. Terus terang, gua berdebar gak karuan. Seperti yang sudah gua bilang, rasanya campur aduk. Tina dengan posisi sedikit merebahkan badan di sofa surga juga tak bisa menutupi percampuran perasaan yang sedang dialaminya. Gua melangkah ke meja makan, melewati tina yang sedang nonton tv. Sesaat kami berpandangan. Dada semakin berdebar. Gua membawa gelas berisi air putih dan mendekati tina.

Gua sudah berada dibelakang tina sekarang. Lebih tepatnya, dibelakang sofa surga tempat tina berada.

Nonton apaan? kata gua. kenapa gak langsung sikat bro? sikat, mbahmu! gua masih mencoba meredakan perasaan yang gak karuan. kalo langsung gua sikat, takutnya baik gua maupun tina kena serangan jantung.
Gak tahu, film apaan.. jawabnya.
Keatas, yuk..
Ngga, ah. takut..

Kenapa, gak bisa tidur? tanya gua, membahas wasap yang gua terima. cih, basabasi banget, lu nyet! Gua sama tina, berbicara tanpa saling bertatapan. Pandangan kami samasama ke arah tv.

Tina gak menjawab pertanyaan gua. Dia hanya melakukan gerakan tubuh, gesture ingin segera di jamah.

Nih, minum.. kata gua, sambil memberikan gelas yang memang sengaja gua bawa untuk dia. Gunanya? Agar dia lebih rileks. Karena air putih itu mengandungoke, sorry, kita fokus ke adegan per adegan saja.

Setelah meminum air yang gua berikan, tina berbicara pelan, seperti berbisik, aaaaa, gak bisa tiduuurrrr sambil menaruh kepalanya di bagian atas sofa surga hingga dapat saling berpandangan dengan gua yang sedang menaruh gelas di meja makan. Gua tersenyum. Kami saling berpandangan. Jelas saja pandangan tina ke gua kali ini, terbalik 180 derajat karena posisinya yang badan ke arah tv, muka ke arah meja makan

Gua hampiri dia. Tanpa rayuan, tanpa trik, tanpa teoriteori jlimet yang ada di how to start seks for dummies, langsung menyosor bibirnya. Gua berbisik, gak bisa, tidurrr, ya.. kemudian kami berciuman layaknya Abang Spiderman yang cipokan setelah nolong neng MJ.

Keatas yuk..
Aaaaa, takuutt..

Tina bangun dari sofa surga. Berdiri dekat colokan listrik disamping tv. Mengecek hpnya. Entah apa yang dicek. Gua mendekat, dan langsung memeluknya dari belakang. Napas tina langsung berhembus kencang. Tangannya masih memegang hp, tangan gua memegang perutnya. Gua cium lehernya, dia bergeliat. Gua ambil hpnya, dan membalikkan badannya. Kami berciuman. Ariel sudah on. Ada hal yang mau gua sampaikan. Tapi nanti saja, diakhir cerita.

Tina memakai daster tipis. Gua angkat tinggitinggi dasternya hingga seluruh bagian bawahnya terbuka. Badannya kembali gua putar agar membelakangi gua. Tina mengulum bibir gua dengan posisi menengok. Aku horrrnyy.. bisiknya. Gua gak menjawab. Moment seperti ini lebih baik merespon dengan tindakan, bukan omongan. Payudaranya gua remas. Sebentar saja, sudah mengeras. aaaahhhh desahnya sesekali. Sambil berciuman, masih dengan posisi berdiri, gua menggiring tina. Melangkah menaiki anak tangga. Gua masih membelakangi tina. Satu tangan tina merangkul leher gua, satunya lagi berpegangan dengan tangan gua, dan tangan gua satu lagi terus meraba payudaranya.

Kami berdua sudah dipuncak nafsu. Nikmat sekali, bercumbu sambil berjalan menaiki tangga, ini kalo dijadikan film, judulnya tangga kenikmatan. Kami berhenti ditengah antara lantai satu dan dua. Gua memojokkan badan tina ke tembok, kemudian menciumi lehernya, dadanya, dan vaginanya tanpa melepas apa pun yang dipakai tina, harum sekali tubuhnya. Tina sesekali meremas rambut gua. Gua menciumi pahanya. Kemudian kembali berdiri dan menaiki anak tangga.

Sebenarnya ini moment yang tepat untuk kamar gua melakukan debutnya dipake untuk make orang. Sayang, bentuknya sedang tidak nyaman. Lebih mirip kandang kambing dadakan dekat mushola saat idul adha ketimbang kamar manusia. Gua mengurungkan niat. Bisabisa tina kehilangan gairah.. batin gua. Gua menuju kamar sebelah. Kamar yang jarang dipakai. Kamar tamu. Tampak lebih rapih, bahkan sangat rapih.

Tina sudah tak kuasa menahan nafsu sesampainya didalam kamar. Sambil berciuman, dia meremas ariel sebentar kemudian membuka celana gua. Ariel langsung menampakkan diri, karena gua sudah tidak memakai sempak. *udah buat ngelap peju sebelumnya, sob..

Dia memainkan lidahnya, memutari kepala ariel dengan sesekali menyedotnya. Baru kepalanya saja yang disentuh dengan mulut dan lidahnya, rasanya sudah nikmat sekali. kepala ariel dimasukkan kedalam mulutnya tanpa melewati giginya. disedot, kemudian dijilat. dilakukan berulang kali. Gua udah meremmelek. Lalu dengan wajah yang disempatkan menengok ke arah gua, tina menjilati seluruh bagian ariel. Seluruhnya. kemudian mengulum ariel secara perlahan. aaahhhh.. fuck!

Tak sampai disitu, saat tina memasukkan ariel kedalam mulutnya, gua menahan kepalanya agar ariel masuk hingga ujung pangkal. Mukanya tampak merah menahan ariel yang menerobos ke tenggorokan. Gua ulangi beberapa kali. Kemudian tina melakukan gerakan oral dengan cepat. Sesekali menjilati. Kemudian oral cepat lagi. Kedua tangan tina berada di dada gua. oke, cukup, aksimu nak.. batin gua.

Tina gua giring ke ujung kasur. Dasternya sengaja tidak gua lepas, hanya menggulung di bagian perut, untuk mengantisipasi hal yg tidak diinginkan. Gua lepas branya. Meremas payudaranya sambil berciuman. Kemudian gua kulum putingnya. Tina menggigit bibir bawahnya, gua semakin terangsang. Gua habisi payudaranya dengan adil. kanan dan kiri, sama rata. Gua mainkan lidah gua memutari putingnya, kemudian menyedotnya. Tina semakin bergeliat. Sesekali mengerang, Ssssssssstt..aaaugghhhh..

Gua rebahkan badan tina dikasur. Dan melepas kancutnya. Tina tampak canggung mendapati dirinya 99% bugil didepan gua, tapi karena nafsunya lebih membuncah, rasa canggung tadi sebentar saja kemudian hilang. Badannya bergeliat. Tangannya sudah meremas payudaranya sendiri. Untuk sesaat, sepersekian detik, gua berpikir anjing, ini bejad banget, ini.. mungkin efek onani tadi. Tapi tenang, pertunjukan tetap berlangsung.

Tina terlihat begitu nikmat sekali untuk digagahi, mana mungkin gua berhenti sampai disini. Gua melepas kaos. Merebahkan badan gua, untuk berciuman. Lidah tina begitu agresif. Gua membalas dengan mengulum bibir bawahnya. Sambil berciuman, jari jemari gua meraba vaginanya. Tina gantian menggigit bibir bawah gua saat vaginanya gua sentuh. Kemudian dengan sentuhan yang lebih terasa, tina mendesah, aaaauuugghhh.. gua belum memasukkan jari gua ke dalam vaginanya. Tina sudah begitu bergeliat. Sambil terus meraba vaginanya, gua menjilati lehernya, tina keenakan. gua jilati payudaranya yang satu, yang satunya lagi diremasnya sendiri, kemudian bergantian. gua mencium dan menjilati seluruh tubuhnya, kecuali bagian yang tertutup daster. buka aja, dasternya.. kata dia dengan suara yang begitu, aaahh, begitu menggoda.

ga usah.. kata gua, singkat. kemudian mencium vaginanya. tanpa bau yang tak sedap. karena saat gua kira dia sudah tidur, sebenernya dia sedang mandi. gua cium pahanya, sambil memintanya untuk ngangkang. indaaaahhh. tangan gua melingkari pahanya, dan mulai menjilati vagina tina. tina bergeliat hebat, sesekali terdengar dia menahan suara desahannya, hhhgggg..

gua cium, gua jilat, gua sedot lobang kencing tina. gua habisi. gua nikmati. sangat menikmati karena begitu pun tina. satu tangan gua sambil meremas dadanya. tangan tina yang satu meremas dadanya, satunya lagi berada dimulutnya. sesekali dia pakai untuk menutup mulutnya sendiri saat tak kuasa mengerang. kemudian gua bangun dari posisi sebelumnya. vagina tina sudah basah. kemudian kembali gua raba dan memasukkan jari kedalam lobang vaginanya. hhhhaaak, hhhaaakk,.. suara tina menahan erangannya.

kemudian gua sejajarkan badan gua untuk memberinya ciuman. sambil mengocok vaginanya, memainkan klitorinya, mengacakngacak kelaminnya. enak bangeeettt..hhaaakk.. kata dia, masih dengan suara menahan erangan. Waktunya ariel unjuk gigi. Suah siap memasukkan ariel dengan gaya misionaris. Posisi gua duduk, tina telentang ngangkang. Pemandangan dari sini sangat luar biasa. Tidak ada pemandangan yang lebih luar biasa dari perempuan yang sudah dipuncak nafsu terlentang didepan kita dengan tangan yang meremasremas payudaranya sendiri. tidak ada.

Gua mulai menempelkan ariel di vaginanya. Nafas tina semakin tak terkontrol. Gua menggerakgerakkan ariel naik turun, meraba lobang vaginanya. oh, my bob! vaginanya masih rapet. masih ngegrip. gua merendahkan badan gua. sambil menciumnya, JLEBBB.. aaaauuuhhhggggg.sssssst desah tina sambil berciuman. Ariel masuk dalamdalam. Tina menggila, habis mulut gua melayani ciumannya. Gua belum menggerakkan ariel majumundur. Masih menikmati hangatnya vagina tina. Setelah beberapa detik, tina yang justru menggerakkan pinggulnya. Dia mengebor dengan posisi dibawah, gilak! Gua memberinya kesempatan untuk beraksi. Pantat gua diremas, sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

Tapi tibatiba dia berhenti. Memalingkan wajahnya, seperti mendengar sesuatu. Dari jauh, memang samarsamar terdengar suara.

tiut, titut, titut..

Wajah tina tampak menyiratkan sesuatu, kemudian dia menghempaskan badan gua. Merapihkan dasternya dan berlari pelan ke sumber suara sambil merapihkan branya. Gua masih belum tau apa yang terjadi. Gua lihat tina di samping tv memegang hp, ssttt.. kata gua. Tina menoleh ke arah gua dan berbicara tanpa suara sambil menahan tawa, Alarm.. Gua liat jam dinding. Jam 3 kurang 15 menit. Sudah barang tentu, suara tadi itu adalah suara alarm yang membangunkan tina untuk., sudahlah, tak perlu lah gua kasih tau. apalagi yang dikerjaan seorang yang beragama jam segitu? damn!

Kami saling bertatapan dan tertawa geli tanpa suara. Saat tina hendak kembali naik ke atas, meneruskan permainan, hal yang gua takutkan terjadi. Suara mesin air terdengar menggema. Nyaring karena keheningan malam. Bokap gua udah bangun. Mati.

Cerita Dewasa Daun Muda Episode II Bagian III

Selang beberapa menit setelah terdengar suara mesin air, bokap keluar dari kamar. Gua mengintip dari atas. Tina purapura tidur di sofa surga. Bokap mendekati tina dan menidurinya Yakali..

Bokap membangunkan tina, bangun, mau solat malem ga? Kata bokap. Tina menjawab dengan berakting seolaholah bangun tidur. Ngga mas.. Aku lagi gak solat. Jawabnya. Yaudah, pindah tidur ke kamar sana.. Pungkas bokap. Tina naik ke kamar tamu, menuruti perintah bokap, sejurus kemudian bokap kembali masuk kamar.

Gua berdiri di depan pintu kamar tamu. Tina melewati gua dengan wajah campuran antara malu, bersalah, dan tentu saja, masih bergairah melanjutkan permainan. Tina lansung merebahkan badannya di kasur. dengan posisi tungkerep.

Gua menutup dan mengunci pintu dengan wajah sumringah. Sesumringah warga miskin dapet bantuan dari pemerintah. Tina tak bergeming saat gua mengunci pintu. Dia hanya menggeser posisi badannya yang ditengah kasur, agar gua bisa tidur disebelahnya. Sebuah gerakan kode. Kemudian gua tidur disebelahnya dengan posisi badan menyamping menghadap tina. Sejurus kemudian tina juga menyamping menghadap tembok, membelakangi gua. Seolah berkata, buru, doggy gua! Karena tina memang sudah tidak memakai kancut.

Ariel belum kembali sadarkan diri. Gua kemudian mencoba menyadarkannya. Gua peluk tina dengan posisi menyamping. Ariel tepat di selasela bokong tina. Gua cium punggung dan leher belakang tina sambil membuka branya. Tina tampak terangsang. Gua remas payudaranya dari belakang. Langsung kencang. Gua angkat badan gua untuk meraih bibirnya. Gua cium tina dari belakang. Kami berciuman. Tina belum merubah posisinya. Ariel sudah tampak terpanggil. Gua semakin hot mencumbu tina. Meremas payuradanya, mengulum bibirnya, sssssst, aaaahhh.. Tina mulai mendesah. Sejurus kemudian merubah posisi badannya. Tina sudah telentang, tubuhnya bergeliat tak bisa diam ketika tangan gua mulai memegang vaginanya yg hanya tertutup daster tipis yang turun temurun dipakai oleh ibu dan kakak perempuan. Inilah yang ingin gua ceritakan. Tina memakai daster yang turun temurun dikenakan oleh ibu dan kakak perempuan gua.

Terbayang seperti apa kan, saat gua menyetubuhi perempuan yg memakai daster yang biasa dipakai oleh ibu dan kakak perempuan gua? Sick!

Buka dasternya.. kata gua, sambil bangun dari kasur untuk mematikan lampu. Tina melepas dasternya. Badan sintalnya terlihat samarsamar dari pantulan lampu diluar kamar. Wajahnya tampak sangat bernafsu. Gua mendekat ke arah tina, sambil menanggalkan semua pakaian gua. Tina sedikit membangunkan badannya, punggungnya bersandar ke tembok. Ariel sudah tegak berdiri. Siap menerobos lubang apa saja. Lubang pertama yang dihampiri adalah mulut. Gua berdiri disamping kasur, meminta tina mendekat. Tina mendekat ke ujung kasur. Kami berciuman, sebelum tina mulai mengulum ariel. Dengan posisi mengangkang, tina dengan lahap melumat ariel. Disedot, dikulum, dijilat. Ariel menjadi organ tubuh gua paling bahagia saat itu.

Setelah puas dioral, gua pegang wajah tina dengan kedua tangan gua. Gua pandangi sesaat, tampak wajah penuh birani sedang menikmati permainan. Gua cium bibirnya. Kemudian sambil menjilat putingnya, gua ganjel kedua kakinya dengan tangan gua sebagai tumpuan. Tina tau harus berbuat apa. Dia pegang ariel. Dia arahkan menuju vaginanya. Sesaat menggoyangkan ariel dibibir vaginanya untuk menemukan lubang kehangatan. Kemudian tanpa diberi komando, saat gua tau ariel sudah digerbang kenikmatan, gua dorong badan gua. Hlleebbb.. Aaaaaaaahhhh.. Tina mengerang panjang saat ariel mulai memasuki vaginanya. Tina menggerakkan wajahnya ke wajah gua, lalu melumat bibir gua. Liar sekali. Gua semakin terangsang. Sambil melawan ciumannya, gua goyangkan pinggul gua maju mundur, dengan kecepatan yang tak merusak moment kenikmatan. Tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat, pas. Hhhhaaaaaa, sssshhht, hhhhaaaaa tina mendesah dibibir gua. Gua coba meningkatkan tempo laju majumundurnya ariel dari vagina tina. Saat ingin menegakkan badan gua, tina malah merangkul leher gua. Dia masih ingin berciuman, dan dia masih menikmati tempo. Gua menurutinya. Sesaat meladeni bibirnya, gua menjilati area payudaranya. Oouugghhh.. Suara tina pecah, saat gua melumat putingnya. Dia dengan cepat menutup mulutnya, nafasnya terdengar seperti pelari marathon digaris finish. Cepat dan menggairahkan. Aaakkhhh.. Aaaaaakkkhhh.. tina lost control. Suaranya kali ini sangat terdengar. Tak kuasa dia menahan kenikmatan.

Hey.. Kata gua, sambil kembali mengulum mulutnya agar suara desahannya tak terlalu kencang. Enak, bangeeett yoo.. balesnya sambil mengulum balik bibir gua. Gua menggeser posisi tina yang setengah duduk agar telentang dikasur. Dengan ariel yang masih berakselerasi, gua naik keatas kasur. Gaya misionaris.

Gua menegakkan badan. Tangan kiri meremas payudara tina. Tangan kanan memegang satu kaki tina yang menggantung diudara. Dari tempat gua memandang, tina tampak sangat menikmati permainan. Tidak ada wajah malu, kikuk, apalagi bersalah. Sesekali dia meremas payudaranya yang tidak gua jamah. Sekali lagi, temanteman. Tak ada pemandangan yang lebih indah dan nikmat dilihat selain perempuan dengan birahi yang membuncah, sedang telentang dengan kaki yang mengangkang, menikmati permainan. Tidak ada.

Saat sadar gua mulai kelelahan, tina bangun dari tidurnya. Meraih leher gua, dan melumat bibir gua. Gua tak lantas merebahkan diri. Gaya duduk dulu, sebentaran.. Batin gua. Gaya paling yahud untuk menikmati seks yg tak sekedar berorientasi pada crot, tapi juga kepuasan batin. Tina semakin kesetanan. Bokongnya mengambang diantara paha gua. Dia mulai bergerak maju mundur. Gua menahan badan dengan kedua tangan dibelakang. Tina berakselerasi, aaauugghh, hhhhaaaaahhhh, hhhhaaaaaggghhh.. Sesekali iramanya tak karuan. Badannya bergeliat.

Gua merebahkan badan. Women on top. Tina duduk dipaha gua, lututnya bertumpu pada kasur. Kemudian pantatnya mulai bergoyang. Majumundur dengan cepat kemudian memutar dengan lambat, dilakukannya seirama. Nikmat sekali. Tangan kami berdua berpegangan, tina memainkan goyangannya. Sesekali tubuhnya kejang sesaat setelah melakukan akselerasi. Kemudian sambil memeluk gua yang terlentang, tina menggoyangkan pantatnya naikturun. Sambil berciuman, gantian gua yang menggoyangkannya dari bawah. Plak, plak, plak.. Suara pantat tina yang turun naik karena goyangan gua. Badannya kejangkejang beberapa saat. Saat seperti itu, kami menurunkan tempo. Gua hanya menggoyangkan pelan pantatnya majumundur.

Serangan terakhir. Gua menegakkan badan gua. Tina dengan posisi jongkok sambil merangkul leher gua, terus menciumi leher gua. Gua berakselerasi. Majumundur. Tina meremas rambut gua. Kemudian gua pegang punggungnya, menyuruh dia menghadap tembok. Dengan posisi samasama bertumpu pada lutut, tina gua doggy. Aaaahhhhgggg, sssssttthhhh, aaaahhggg.. Gua mendesah dibelakang kupingnya. Kedua tangan tina ditembok. Sesekali satu tangannya memegang vaginanya. Nikmat sekali.

Tina merubah posisinya. Dia nungging dengan kedua tangan dikasur. Kali ini dengan posisi doggy yg sempurna, gua mempercepat gerakan. Majumundur. Tangan gua bertamasya. Meremas pantatnya, meremas payudaranya, meraba vaginanya. Enaakkk Bisik gua, sambil menciumi punggungnya. Aaauugghhh..aaauuugghhh.. balasnya. Mungkin kalo diartikan, enak banget, nyet! Pakek nanyak!

Tina menengok kebelakang menyerahkan bibir, langsung gua sambar, sambil terus menggoyangkan pantat majumundur. Hell, yeah! Saatnya ngecrot.

Tina gua minta untuk telentang. Kembali ke posisi misionaris. Sambil merebahkan badan gua, mencium bibir tina, gua tancap gas. Plok, plok, plok.. Tina menggigit bibir gua sambil menahan suara, aaaaahhhhhh, aaaaahhhh, aaaahhh.. gua semakin kencang mengocok ariel di dalam vaginanya. Sambil merangkul lehernya dari atas, gua mempercepat gerakan. Tina semakin tak kuasa menahan. Tangannya menyumpal mulutnya sendiri, kakinya melingkar diatas punggung gua, gua kesetanan, dan crooottt! crottt! croottt! Ariel muntah didalam vagina. Tina mengerang menahan suara. Aaaahhhhh

Kami samasama diam tak bergerak selama beberapa saat. Terdengar nafas kami berdua yang saling menyahut. Kami samasama lemas. Kami baru saja menjalankan sila kelima pancasila: keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, merdeka!

Cerita Dewasa Daun Muda Episode II Bagian VI

Setelah kejadian dirumah. Hubungan gua sama tina tak bisa terbendung. Kami makin intens ketemuan. Dan, tentu saja, makin intens melakukan apa yang sudah gua ceritakan pada cerita seks daun muda diatas. Singkat cerita, sialnya, kami saling jatuh cinta. Niat awal hanya ingin berhubungan badan, kini malah menjalani hubungan emosional. Mati!

Dalam seminggu, kami bisa 34 kali bertemu. Sekedar makan diluar, atau pergi nonton, layaknya mudamudi masa kini. Tak jarang kami hanya menghabiskan waktu dikamar kostannya. loh, suhu.. bukannya kost nina gak bebas? Eits, gua lupa ngasih tau. Dia pindah ke kostan yang lebih Las Vegas, sebulan setelah pertama kali kami bercumbu dirumah. Beberapa kali gua bahkan menginap dikostan tina, sangking bebasnya. Dari sini gua mengenal tina lebih jauh. Dan karena gua anaknya baik hati, gua akan mengenalkan tina lebih jauh juga kepada kalian, wahai saudaraku.

Aku lahir dari keluarga sederhana yang luarbiasa. Ayahku seorang guru. Dia selalu memberiku contoh bahwa dalam menjalani hidup, kesungguhan adalah kunci keberhasilan. Dia selalu mengucapkan kalimat legendaris dari tanah arab, man jadda, wajada.. saat aku sedang kesulitan menghadapi sesuatu. Aku bahkan masih mengingat wajah Ayah yang akan terus mengulangi kalimat, man jadda.. sampai aku menjawabnya ..wajada! tulus dan menenangkan, bahkan menggemaskan. Aku rindu Ayahku.

Ibuku seperti halnya wanita jawa kebanyakan, lembut, anggun, dan santun. Ibu yang mengajarkan aku tentang kesabaran. Sabar, kata ibu, akan membawa kita pada kebahagiaan asal kita menjalaninya dengan benar. Pernah satu waktu, saat aku masih kecil. Aku merasa kesal oleh keponakanku sendiri, yang usianya justru lebih tua dia dari pada aku. Aku murung dan bersedih. Kemudian ibuku menghampiri, lalu berbisik, ndak apaapa, ndok, kamu dipanggil begitu. nanti kalo kamu sudah besar, orangorang akan lupa pernah memanggilmu, tinatun, karena kamu jauh lebih cantik, dan jauh lebih anggun..

Aku cukup berprestasi dalam bidang akademik. Aku mengikuti kelas akselerasi sewaktu duduk di kelas dua SMP, begitu juga saat di kelas dua SMA. Itu sebabnya aku tak memiliki kesan selama bersekolah. Tak ada kenangan yang membekas sama sekali. Aku bahkan lupa pernah naksir oleh teman lakilaki atau tidak. Hidupku hanya belajar, belajar, dan belajar. Saat menjadi mahasiswa, aku tumbuh menjadi gadis yang seutuhnya. Tak ada satu lelaki pun yang pernah menjamah payudaraku yang mulai tumbuh. Apalagi menyentuh daerah kemaluanku. Tak seorang pun. Aku gadis seutuhnyakamu, gadis atau janda?

Sampai akhirnya, pada tahun terakhir kuliah, status kegadisanku sirna. Hilang tak terbendung. Lenyap dilahap nafsu.

Namanya Joseph Balian. Kekasihku. Cinta pertamaku. Dia adalah salah satu maskot kesempurnaan dalam satu angkatan. Ketampanan dan kharismanya bukan hanya diakui oleh satu fakultas, tapi juga satu kampus. Jose, begitu biasa ia disapa, adalah anak dari seorang pejabat pemerintahan. Ayahnya begitu berpengaruh. Keluarganya sangat terpandang.

Saat Jose mulai mendekatiku, aku tahu bahwa ia hanya memanfaatkan prestasiku. Temantemanku, yang jumlahnya tak banyak, selalu meyakinkanku bahwa Jose adalah bajingan. Playboy kelas kakap.

Namun aku punya penilaian sendiri terhadap Jose, dan mengabaikan cibiran temanteman dan orangorang yang tak suka kedekatan kami berdua. Aku pun menerima cinta Jose, setelah melewati perjalanan yang panjang. Itu sebabnya, kami mulai menjalin hubungan di tahun kedua sebelum menyandang gelar sarjana, yang sebenarnya bisa terjadi di awal masa perkuliahan.

Jose 180 derajat dari yang temanteman, dan orangorang katakan. Dia adalah seorang pria yang begitu menyenangkan. Jauh dari kata, bajingan, meski aku tahu dia mempunyai banyak mantan pacar. Namun, dari sekian banyak perempuan yang pernah dipacarinya, tak ada satu pun yang menunjukkan rasa sakit hatinya terhadap Jose. Mereka tetap berhubungan baik. Itulah salah satu yang membuatku akhirnya memutuskan untuk menerima cintanya.

Hubungan asmara kami berjalan dengan baik. Kami saling mengisi satu sama lain. Tak jarang kami menghabiskan waktu berdua dengan belajar. Yup, belajar. Jose benarbenar memanfaatkanku meski aku pun mendapatkan manfaat dari hubungan kami. Jose tak pernah kurang ajar terhadapku. Boroboro menjamah tubuhku, mendekatkan wajahnya ke wajahku saja dia sudah seperti ayam kena siram air panas. Kejangkejang.

Meski hubungan kami tidak menganut seks bebas, namun beberapa kali kami juga melampiaskan nafsu dengan cara sewajarnya. Aku masih ingat pertama kali Jose mencium bibirku. Sekaligus, menjamah tubuhku. Saat itu kami baru pulang menonton konser So7. Jose mengantarku pulang kerumah. Dia mematikan mesin mobilnya, 10 meter sebelum sampai rumahku. Kemudian berhenti tepat di depan rumah tanpa suara.

Aku berdebar tak karuan. Aku sadar bahwa dia akan melakukan perbuatan yang tidak semestinya, tapi aku tak dapat menyangkal bahwa aku pun ingin merasakannya. Sudah bertahuntahun aku mendengar curhat temantemanku yang sudah melakukan hubungan seks diluar nikah. Bertahuntahun pula, aku tak sedikit pun terpengaruh untuk melakukannya. Tapi malam itu, usahaku untuk tak disentuh oleh lakilaki yang bukan muhrimku menguap tak bersisa. Aku takluk bukan hanya karena cara Jose memperlakukanku, tapi juga hasrat untuk mencoba hal baru yang menggebu.

Jose mencium tanganku. Kemudian sambil memeluk tanganku, dia berkata, Aku sayang banget sama kamu.. aku meleleh, kudekapkan tubuhku, dan kami berpelukan. Aku juga sayang sama kamu.. bisikku, malumalu. Kemudian Jose memegang wajahku. Kami saling bertatapan. Hanya 5 cm meter jarak wajahku dan wajahnya. Jose mengamati semua bagian wajahku. Ia menatap dalamdalam mataku, sambil menggerakgerakkan ibu jarinya di wajahku. Menyentuh bibirku, kemudian dengan gerakan pasti mengulum bibirku. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasaan. Dadaku berdebar ingin meledak. Aku tak dapat menggerakkan tubuhku, juga bibir mungilku. Aku membeku untuk sesaat.

Tak mendapat respon dariku, Jose melepaskan ciumannya. Wajahnya tampak kikuk, merasa bersalah. Saat ia akan mengatakan sesuatu, mungkin permohonan maaf, aku mendekatkan bibirku, dan dia kembali menciumku. Tanpa perlu berlatih cara berciuman, aku sudah tau bagaimana caranya. Karena berciuman sejatinya adalah kegiatan yang alami.

Aku benarbenar menikmati ciuman pertamaku dengan Jose. Cukup lama kami melakukannya sampai Jose mulai meraba payudaraku. Aku salah tingkah. Kali ini aku tak tahu harus bagaimana. Belum pernah dalam hidupku, selama 22 tahun, satu orang pun menjamah tubuhku, baik pria apalagi wanita. Aku tak menolak apa yang Jose lakukan. Aku cukup menikmati, meski tak tahu harus melakukan apa. Aku hanya memegang tangan Jose untuk menahannya saat ia mulai menjamah lebih jauh.

***

Ditahun terakhir hubungan kami, Jose terpukul oleh kasus hukum yang menimpa keluarganya. Ayahnya di vonis 20 tahun penjara karena kasus korupsi. Aku memainkan peranku sebagai kekasihnya. Aku tidak lantas meninggalkan Jose, karena aku tau, Jose tak terlibat pada perbuatan bejat yang dilakukan ayahnya. Aku hanya ingin fair. Tidak mungkin aku membenci Jose karena perbuatan yang tidak ia lakukan. Jose yang ku kenal justru adalah pribadi yang jujur dan berpemikiran bersih. Itulah yang membuatnya amat terpukul. Meski begitu, Jose mencoba berbakti kepada ayahnya dengan mendukung langkahlangkah yang dilakukan ayah dan kuasa hukumnya, banding putusan pengadilan.

Setelah berbulanbulan menjalani proses banding, pengadilan tetap tidak merubah putusan sebelumnya. Banding ditolak. Ayah Jose mendekam 20 tahun, dan keluarga Jose ibu dan dua adik perempuannya, memilih untuk pindah ke luar negeri. Mereka tak kuasa menahan malu dalam kesedihan.

Sore hari dimana putusan banding dibacakan, Jose mengantarkan keluarganya ke bandara. Ia memilih bertahan dan menyelesaikan kuliahnya dari pada harus kalah oleh rasa malu pada kesalahan yang dilakukan ayahnya. Aku mau selesaiin kuliahku.. katanya, saat meneleponku untuk mengabarkan putusan banding pengadilan dan keputusan keluarganya menghilang sejenak. Yasudah, kamu langsung pulang kan? nanti aku kerumahmu. kamu yang kuat ya, sayang.. kataku menutup pembicaraan.

Hari mulai gelap. Senja mulai terbenam. Rumah besar ini biasanya begitu ramai aktifitas. Mulai dari supir yang sedang mencuci mobil, baby sitter yang berlarian menjaga adik kedua Jose yang masih kecil, atau Ibu dan pembantu rumah Jose yang menyiapkan makan malam. Malam ini suasana begitu hening. Sepi terkoyak detak jarum jam dinding berukuran besar. Aku memegang kedua tangan Jose yang berkeringat. Jose membenamkan wajahnya yang berurai air mata. Terimakasih ya, kamu masih mau nemenin aku.. suara Jose terdengar lirih. Aku tak ingin ikut larut dalam suasana yang teramat getir untuk Jose. Sebisa mungkin aku menghibur Jose untuk tidak larut dalam kesedihan. Mandi sana, biar seger.. Kataku, saat melihat wajahnya sudah mulai menghapus kesedihan yang ada.

Aku mempersiapkan diri menghibur Jose dengan game battle yang biasa kami mainkan. Game battle ini biasanya cara paling ampuh mengusir kepenatan yang sedang dirasakan antara kami berdua. Namun kali ini, game battle tersebut tak cukup ampuh. Jose setengah hati memainkan game, antara malas memainkannya dan tak kuasa menolak usahaku menghibur hatinya. Kamu main sendiri aja, ya.. kata Jose. Kemudian ia meraih remote dan menyalakan televisi sambil membaringkan badannya disampingku . Aku tertegun. Sedih karena tak bisa menghilangkan kesedihan yang sedang Jose rasakan. Ketika televisi menayangkan berita seputar kasus ayahnya, aku langsung merebut remote dan mematikan televisi. Jose diam saja. Ia mengerti maksudku melarangnya menonton berita. Saat seperti ini, menonton berita di televisi hanya akan semakin membuat runyam suasana.

Jose berbaring disampingku dengan tangan kiri yang menjadi alas kepalanya. Tatapannya nanar. Membuatku semakin pilu merasakan yang sedang ia rasakan. Aku merebahkan tubuhku disampingnya, berbaring diantara tangan dan dadanya. Jose masih tak bereaksi. Aku bingung harus berbuat apa. Jose kemudian mulai menggerakgerakan tangannya mengelus kepalaku. Memainkan rambutku. Menyentuh telinga dan wajahku. Aku menatapnya, sesaat kemudian ia menatapku. Wajahnya sudah lebih baik. Aku tersenyum sambil memberikan sentuhan di dada dan wajah Jose. Dan seperti yang sudah diduga, kami berciuman.

Jose menghampiri wajahku, kemudian sambil mengelus lembut wajahku, bibirnya menghujam bibirku. Sesaat setelah berciuman, Jose seperti mendapatkan wangsit. Ia bangun dari tidurnya, kemudian meraih tablet yang tadi kami pakai untuk bermain game. Jose ingin bermain (game)? batinku. Jose kemudian seperti mencari sesuatu di dalam tabletnya. Setelah itu berkata, sini, Yang. kita nonton.. sambil memberikan gesture agar aku bersandar di dadanya yang cukup bidang dan tegap. Aku menurutinya. Tangannya melingkari tubuhku sambil memegang table. Aku benarbenar terkejut. Jose mengajakku menonton video porno.

Aku besar dari keluarga yang cukup agamis. Melihat tubuh seseorang tanpa busana bukanlah hal biasa bagiku. Membaca berita tentang tersebarnya video mesum seorang artis lengkap dengan adegan peradegannya dengan bahasa jurnalistik saja sudah membuatku lemas. Membuatku bahkan malu terhadap diriku sendiri. Tapi saat ini, Jose bahkan mengajakku menonton adegan mesum. Aku tak bisa menolaknya meski juga tak ingin menontonnya. Kali ini aku yang setengah hati.

Video porno yang Jose perlihatkan kepadaku, tidak seperti video porno yang pernah diceritakan temantemanku, mungkin karena memang aku tak tau menahu tentang seluk beluk video porno. Yang diceritakan temantemanku, orang yang melakukan adegan mesum dalam video porno adalah orangorang yang memang berkarir di industri seks dunia. Menurut mereka, orangorang yang melakukan adegan mesum itu dibayar layaknya seorang artis membintangi sebuah film layar lebar. Sedangkan yang aku tonton bersama Jose, jauh dari kesan yang dikatakan temanku.

Dalam video itu, tampak seorang wanita yang setengah malumalu, berbicara dengan pria yang merekam suasana di dalam kamar hotel. Perempuan itu kemudian membuka celana prianya. Aku bingung harus bereaksi seperti apa. Jose mengabaikan pandanganku, wajahnya tetap tertuju pada layar tablet. Saat penis pria itu terlihat jelas dalam video, aku bereaksi dengan menggoyanggoyangkan tubuhku meminta Jose untuk tidak melanjutkan. Jose memaksaku untuk menyaksikan video yang berdurasi 25 menit tersebut. Aku ingin menolak, tapi tak kuasa melakukannya. Meskipun begitu, aku tak merasakan kemarahan sedikit pun terhadap Jose atas siatuasi yang sedang terjadi. Apa mungkin sebenarnya, aku pun ingin menonton video porno? Entahlah..

Saat wanita di dalam video mulai menjilatjilat batang penis, aku memalingkan wajahku dari layar tablet. Jose tersenyum geli melihat tingkahku. Kemudian aku menutupi matanya dengan tanganku. Udah sihh, aah. Sekali ini aja kita nonton film beginian.. katanya merayu. Sekali lagi aku tak bisa menolak permintaan Jose. Aku takut membuatnya seperti satu jam yang lalu. Membuatnya kembali merana. Jika dengan menonton video porno ini membuatnya melepas kesedihan yang sedang ia rasakan, kenapa aku harus menghindarinya, batinku. Video yang Jose perlihatkan seperti sebuah dokumentasi pribadi sepasang kekasih. Jauh dari kesan, industri, karir, atau profesional. Video tersebut terlihat sangat natural. Aku pun mulai terbawa suasana. Menyaksikan video porno adalah pengalaman baru bagiku, dan menurutku, video yang diperlihatkan oleh Jose tidak membuat pengalaman pertamaku itu berkesan buruk. Sesaat kemudian aku menikmati video tersebut. Menikmati pengalaman pertamaku.

Aku dibuat ngilu oleh Jose, saat adegan dalam video memperlihatkan seorang pria mengulum puting dan menjilatjilat vagina wanitanya. Aku begitu berdebar, dan juga sempat merasakan Jose mengalami hal yang sama denganku, meski tak seperti diriku. Penis Jose terasa mengeras dipunggungku. Aku ngilu sekaligus risih. Sesaat setelah sang pria mulai memasukkan penisnya ke lubang vagina wanitanya, aku tak kuasa menahan kencing. Aku seketika kebelet. Jose menahanku, tapi aku benarbenar harus ke kamar mandi, dan Jose pun melepaskan dekapannya. Saat dikamar mandi, pikiranku melayanglayang. Adegan mesum video tersebut timbul tenggelam dalam pikiranku. Saat selesai dengan urusanku (buang air kecil), saat membersikan vaginaku, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Tidak kali ini saja aku membersihkan kemaluanku, tapi kali ini, yang aku rasakan sangatlah berbeda seperti biasanya. Sungguhlah efek menyaksikan video porno begitu terasa dahsyatnya.

Aku sedikit lega saat keluar kamar mandi mendapati Jose yang sudah tak melanjutkan tontonannya. Jose tidak ada di tempat kami menonton video tadi. Ternyata Ia sedang di dapur, meminum segelas air. Aku menghampirinya, Ia memberikan gelasnya. Aku meminumnya. Air mineral dingin memang begitu menyegarkan. Aku merasa segar luar dalam setelah meminum air dan Jose yang sudah tak lagi memaksaku menonton video porno. Jose pun terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya. Ia sudah tampak kembali seperti sebelum kasus yang menimpa ayahnya. Selesai sudah tugasku, Saatnya untuk pulang.. batinku. Jam menunjukkan pukul 8 malam.

Saat hendak meninggalkan dapur, Jose memelukku dari belakang. Aku membalas pelukannya dengan menyentuh tangannya yang melingkari tubuhku. Terimaksih, ya.. katanya. Belum sempat aku membalas, dia membalikkan tubuhku, kemudian menciumku. Kami berciuman. Sesaat saja, kami sudah berciuman dengan penuh penghayatan. Jose meletakkan kedua tangannya dipinggulku, sementara kedua tanganku melingkar di bahunya. Badan Jose lebih tinggi sedikit dari badanku, itu membuatnya begitu mengendalikan ciuman kami. Dan entah apa yang merasukiku, mungkin efek video tadi, aku melawan ciumannya seperti layaknya wanita yang sudah tidur ribuan kali dengan pria.

Jose memojokkan aku kebagaimana caraku menggambarkannya ya? bentuknya seperti meja yang memanjang, tapi bukan meja, melaikan corcoran berlapis marmer yang berguna untuk menaruh peralatan dapur, dan atau makanan dan minuman. Tingginya hanya sepinggangku. Aku bisa saja dengan mudah duduk diatasnya. Jaraknya dengan tembok sekitar 80100 cm. Kurang lebih seperti itu bentuknya, Jose memojokkan aku ke marmer tersebut.

Tanganku masih melingkar dibahu Jose saat Ia meraba payudaraku. Aku menggigit bibirnya. Bereaksi oleh apa yang Ia lakukan. Aku ingin menolak, tapi disaat bersamaan juga menikmati. Aku tidak melepaskan bibir Jose dari mulutku. Kusadari bahwa lidahku meliukliuk mengikuti lidahnya. Kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Jose makin tak terbendung. Ia mencium sekujur leherku. Aku menahan geli dalam kenikmatan. Aku merasakan aliran darahku terpacu. Nafasku seketika tak bisa dikontrol. Aku keenakan oleh pengalaman baru ini.

Jose semakin cepat meremasremas buah dadaku. Aku tak berkutik. Sesekali tak kuasa menaha geli. Geli yang begitu nikmat. Jose mulai membuka kancing bajuku sambil mengulum bibirku. Aku menahannya, tapi tak berhasil. Buah dadaku sudah tak tertutup baju. Jose sesaat terdiam memandangi tubuhku. Itu adalah kali pertama Ia melihatnya, sekaligus menjadi orang pertama yang melihat bagian dalam tubuhku. Aku sedikit canggung menghadapinya. Kemudian Jose mencium bagian buah dadaku yang sedikit tersembul dari dalam bra. Lagilagi aku menahan geli. Saat Jose hendak mengeluarkan buah dadaku dari bra, aku menghadapkan wajahnya, dan mencium bibirnya. Jose urung melakukannya. Sambil berciuman, Ia melepas tali braku yang menyangkut dipunggung. Aku mendekapkan kepalanya. Mempersempit ruang gerak wajahnya. Aku masih menyerang bibirnya. Menikmati ciuman yang terasa berbeda saat pertama kali melakukannya didalam mobil.

Dengan gerakan yang natural, Jose menurunkan braku yang sudah tak tersangkut, Hhhooii.. spontan aku bersuara saat buah dadaku sepenuhnya terbuka dihadapan Jose. Aku menahan sesuatu yang aku sendiri tak tau apa yang aku tahan. Perasaan yang begitu tercampur aduk antara, malu, takut, senang, grogi, dan juga nikmat. Jose kembali menciumku sambil meremas buah dadaku yang sudah tak tertutup sehelai benang pun. Aku berdebar hebat. Jose menundukkan badannya dan muuuaah, mencium buah dadaku. Sejurus kemudian menjilat putingku dan mengulumnya, Aaahhhh.. aku mendesah. Jose menatapku. Wajahku masih memperlihatkan percampuran perasaan yang aku rasakan. Dan tampaknya, yang dilihat Jose hanya rasa nikmat yang menghujamku. Ia makin agresif. Sambil meremas buah dadaku, Ia mengulum putingnya. Nafasku semakin cepat berhembus. Sesekali nafasku keluar dari mulutku, sehingga mengeluarkan suara yang justru semakin membuat suasana semakin terasa nikmat. Aku tak kuasa menahan desahanku, dan juga tak kuasa menahan perbuatan yang begitu diluar kebiasaanku.

Jose melepaskan bajuku sambil mendudukkan aku di marmer yang tadi aku jelaskan. Kakiku melingkari pinggulnya. Kami kembali berciuman. Jose masih terus meremas buah dadaku, sesekali putingku diputarputar dengan telapak tangannya. Aku kejang. Setiap kali Ia melakukannya, aku menggapai mulutnya untuk berciuman. Jose melepaskan jepitan kakiku, kemudian tanganku diarahkan ke penisnya. Aku menahan sebisaku. Dan tentu saja, aku gagal. Tanganku menyentuh penisnya yang sudah mengeras. Dengan tangannya, Ia memandu tanganku untuk memegang penisnya. Aku tak bergeming, hanya mengikutinya. Aku begitu malu dibuatnya, dan tapi, juga tak bisa menolak dan menyudahi perbuatan mesum yang kami lakukan. Aku tak ingin melakukan hubungan seks diluar nikah tapi sekali lagi, situasi tersebut tak dapat aku tolak.

Jose membuka bajunya. Aku semakin berdebar. Kemudian Ia mencium sekujur tubuhku. Aku tak kuasa menahan serangannya, hingga membuat badanku sedikit merebah ke tembok dapurnya. Tanganku memegang kepala Jose. Sesekali aku menjambak rambutnya merespon apa yang Ia lakukan. Kemudian, sambil menciumku yang bersandar ditembok, tangan Jose menyentuh vaginaku. Aku tak kuasa menahan sesuatu yang belum pernah aku alami. Aku kembali menjambak rambutnya sambil menggigit bibirnya. Aaaauugghhhh Aku kembali tak kuasa menahan desahanku.

Kita ke kamar, ya.. bisik Jose sambil mengangkatku. Ia menggendongku melewati ruang makan dan ruang keluarganya, kemudian membuka pintu kamar orang tuanya. Aku tak bereaksi apa pun. Aku masih sibuk dengan perasaan yang sedang aku rasakan dan aku menikmatinya. Jose merebahkan badanku dikasur. Kakiku masih melingkari pinggulnya. Ia mengulangi apa yang Ia lakukan di dapur. Sesaat aku grogi berada dikasur yang biasanya menjadi tempat tidur orang tua Jose. Tapi sesaat kemudian aku merasa nyaman untuk melakukan apa pun dikasur yang cukup lebar ini. Jose kembali mengangkat tubuhku. Kali ini tubuhku sudah benarbenar berada diatas kasur. Jose merebahkan badannya diatas badanku. Tangannya menopang tubuhnya agar tidak menindihku. Aku memegangi tangannya. Sesaat kami saling pandang. Jose tampak sedikit ragu, aku tampak begitu malu. Kemudian Ia memelukku dari posisinya.

Jose menegakkan badannya. Aku sempat menahannya, memegang lehernya agar wajahnya tetap sejajar dengan wajahku. Tapi tenaga Jose, dan nafsu yang membuncah diantara kami berdua lebih besar. Jose bersiap melepas celanaku, aku menahannya, dan Ia tidak melanjutkan melucuti celanaku. Jose mencium perutku, kemudian mencium semua bagian tubuhku yang sudah tidak tertutup. Ia menjilati putingku, lidahnya memutari kedua putingku secara bergantian, aku menggeliat, kemudian Ia menyedot dan mengecupnya. Ia mengecupngecup areal leherku. Nafasnya begitu terasa dan membuatku larut dalam permainan, aku kejang dibuatnya. Ia menghampiri mulutku yang sesekali mengeluarkan suara nafas, aku paham harus bagaimana, dan mengulum bibirnya penuh nafsu. Aku benarbenar dipuncak nafsuku. Aku pasrah menikmati maksiat ini.

Saat bibirku saling mengulum dengan bibirnya, tibatiba dengan cepat Jose menarik celanaku. Aku menggigit bibirnya seraya menyampingkan pinggulku, menutup pahaku yang sebelumnya terbuka karena tubuh Jose berada ditengahnya. Jose kembali membuka pahaku. Aku mengangkang di dihadapan Jose. Celanaku belum sepenuhnya terlepas saat Jose dengan suara menahan laju nafasnya yang menggebu, buka, ya.. lagilagi aku tak menjawabnya. Ekspresi wajahku seperti sudah mewakili apa yang ingin aku katakan, Aku tak ingin melakukannya, tapi aku sangat menikmatinya.. Jose menarik kesimpulan dari reaksi wajahku, Ia melepaskan celanaku. Mulutnya tak berhenti menciumcium paha hingga betisku saat melepaskan celana batik dengan atasan karet kaku yang aku pakai. Aku menggeliat. Sesekali menahan suara desahanku dengan menggigitgigit sarung bantal dengan bibirku. Jose kemudian melepas celana pendeknya.

Jose merebahkan badannya, setengah memeluk diriku dari posisinya. Kami berciuman. Penis Jose kali ini sudah sangat terasa berada diarea vaginaku. Sesekali Ia menggoyangkan badannya naik turun sekedar memberi gesekan terhadap vaginaku. Jose kemudian kembali menjilati buah dadaku. Ia kesetanan, menciumi sekujur tubuhku, mulai dari leher sampai paha dalamku. Aku mendesah, aaaaaaahhhh.. mendengar desahanku, Ia seperti mendapatkan restu menjamah vaginaku. Lalu Ia mendaratkan ciuman tepat di vaginaku yang masih terbungkus celana dalam. Ia mencium dan mengecupngecup vaginaku. Aku menggeliat. Badanku bergetar tak bisa kukendalikan. ssssssshhhhh, aaa, aaaahhh.. desahku.

Kemudian Ia melepas celana dalamku. Sesaat Ia memandangi tubuhku yang sudah bugil di depannya. Aku salah tingkah, dan memintanya merebahkan badan agar menciumku. Ia menuruti keinginanku. Sambil berciuman, Ia merabaraba vaginaku. Aku kejang. Bulubulu yang sudah mulai menghitam disekitar vaginaku begitu terasa saat Ia merabanya. Sesekali jarinya bergoyang dibibir vaginaku. Aku mengerang sambil menggigit bibirnya. Kemudian jarinya mesangsek masuk ke dalam vaginaku. aaaaaauuuggghhhhhhhhh..sssshhhhhttt aku mengerang hebat, menahan tangannya. Ia menurutiku, tangannya berhenti, tapi jarinya yang sudah masuk ke dalam vaginaku digerakgerakkan olehnya naik turun. Aku menggeliat. Ada rasa ngilu yang aku rasakan, sesekali bahkan sakit, meski aku lebih memperdulikan rasa nikmatnya. hehe.

Jose menundukkan kepalanya diantara kedua pahaku yang ditekuknya keatas. Aku mengangkang. Tangan Jose melingkari pahaku, sambil mengeluelus dengan kepala menunduk, Ia mejilat vaginaku. Aku kelejitan. Menggeliat. Aku mengigit sarung bantal, kali ini dengan gigiku. Aku menahan agar tak bersuara. Aaaaauuuggghhhh aku tak sanggup menahan suaraku. Aku mengerang. Jose tak keberatan akan suaraku. Lagian rumah Jose besar dan luas, suaranya tidak akan sampai keluar rumah, sedangkan hanya ada kami berdua didalam rumah. Melihat aku mengerang, Jose semakin liar menjilati vaginaku. Sesekali kami bertatapan, sambil terus menjilati vaginaku, Ia menatapku dalamdalam, begitu pun aku. Aku berkalikali mengerang dan mendesah, Aaaauuugggghhhh aaaahhhhh aaaauuuggghhh..

Jose menciumku sambil melepaskan celana dalamnya. Penis Jose menggantung diatas vaginaku. Aku berdebar hebat. Ini adalah pengalaman pertamaku. Rasa takut sedikit terlintas dari dalam diri. Aku menenangkan diriku sendiri dengan kenikmatan yang tercipta. Jose mengarahkan tanganku untuk memegang penisnya. Aku menurutinya. Ku pegang penis Jose yang sudah sangat tegang. Ukurannya cukup besar bagiku. Sesaat aku merasakan sakit yang teramat jika penis ini masuk kedalam vaginaku. Aku menggerakkan tanganku yang memegang penis Jose. Aku mengocoknya. Kemudian Jose kembali mengulumulum payudaraku dan mencium perut dan selangkanganku.

Jose menegakkan badannya, bersiap menikmati keperawananku. Aku semakin berdebar menunggu rasa yang akan ditimbulkan. Jose memegang penisnya, dan mengarahkan ke vaginaku. Penisnya turun naik di bibir vaginaku. Aku menggeliat. Kemudian Jose mulai mendorong penisnya masuk, hhhhhhaaaaaaaaaa.. aku mengerang, Jose berhenti, memberikan jeda, penisnya kembali digerakkan, turun naik, kemudian melakukannya lagi. hhhhhaaaaauuuuuuu.. kali ini suaraku lebih kencang. Lalu sambil mendorong pinggulnya, penis Jose menerabas masuk vaginaku sepenuhnya, ooouuugggghhhhhhhh hhhhaaaaaauuuuu. aku mengerang kesakitan. Tapi rasa sakit tersebut tidak membuatku berhenti. Jose merebahkan badannya saat penisnya masuk vaginaku. Aku merangkulnya sekuat tenaga sambil menahan sakit. Aku mencium bibirnya. Menahan badannya agar tak bergerak. Jose menurutiku. Sesaat kemudian, Ia kembali menggoyangkan pinggulnya sambil setengah memelukku. Aku merasakan penisnya didalam vaginaku. Perih.

Jose mengangkat kakiku agar melingkar dipinggulnya. Aku pasrah. Tapi sebentar saja dia bergoyang, kakiku sudah terlepas karena tak kuasa menahan nyeri. Jose menegakkan tubuhnya. Aku menggeliat tak karuan. Jose meremas buah dadaku, sambil menggerakkan pinggulnya majumundur dengan gerakan yang lambat. Ia tau aku kesakitan, Ia melakukannya dengan lembut. Aku menutupi mulutku dengan tangan, sesekali suaraku tak bisa tertahan. Sesaat aku rasakan bahwa aku sangat menikmati pengalaman pertamaku in sambil menahan sakit yang juga terasa. Jose melakukannya dengan sangat baik. Aku lost control.

Sesaat kemudian, Jose menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan cepat. Aku semakin bersuara, aaaaauuugghhhh aaaauuugghhhhh aaauuuuuwwww.. sambil mengatur nafasku. Semakin lama, Jose semakin mengocok penisnya yang berada didalam vaginaku, keluarmasuk. Aku menggigit tangannya yang menjadi tumpuan tubuhnya yang berada diatasku. Lalu sambil berciuman Jose menggoyangkan pinggulnya dengan cepat. Setelah itu aku lemas terkulai sambil menahan nafas yang tak beraturan.

Jose masih menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Penisnya yang tak tertutup kondom, sangat terasa di dalam vaginaku. Aku hanya bisa menahan nyeri sambil sesekali mendesah, aaauuuggghhh kemudian sambil mengulum putingku, Jose melakukan gerakan terakhirnya. Ia dengan cepat menggerakkan pinggul, mengocok penisnya di dalam vaginaku, keluar masuk. Aku kejang.

Jose kemudian mengeluarkan penisnya dari dalam vaginaku, ooouuggghhh lalu mendekatkan penisnya ke mulutku yang terbuka membuang nafas. Aku tak bergerak. Aku tau Ia menginginkan oral seks, tapi aku tak kuasa menggerakkan tubuhku, bahkan hanya kepala. Jose berinisiatif dengan menggerakannya sendiri. Aku membuka mulutku, kemudian Ia memasukkannya. Kurasa ada cairan dibatang penisnya. Aku mengulumnya, tanpa gerakkan. Jose menggerakkan sendiri penisnya di dalam mulutku. Kemudian selang beberapa saat Ia mengangkat penisnya dan mengeluarkan spermanya diatas buah dadaku. Aku tak bergerak. Membeku menahan segala sesuatu. Jose pun tumbang disampingku. Untuk beberapa saat, kami berpelukan diatas kasur dalam keadaan telanjang bulat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here