Gugup diatur Guruku

0
20

Gugup diatur Guruku

WANITA MUDA – sesudahnya lulus dari SMP kawan sahabat akrabku disaat itu hilang satu persatu disaat masuk sekolah SMA dikarenakan kala itu saya kuliah di luar negri & kawan tamanku sekolah di swasta di kotanya bukannya angkuh atau bagaimana kemungkinan lantaran otakku pintar menjadi ke-2 orang tuaku menyekolahkanku disana.

Aku tipe orng yang tidak mudah bergaul dengan lingkungan yang tidak sejalan denganku aku memang tipe keras kepala tapi tidak juga memaksakan kehendak seenaknya sendiri, Ini yang menyebabkan aku dan komplotanku yang sepaham memilih keluar dari kepengurusan organisasi sekolah, dan membuat kegiatan sendiri (mading).

Kami menjadi apriori terhadap organisasi sampai sekarang, karena setiap kegiatan organisasi sering dijadikan acara pacaran pengurusnya dan tidak untuk menjalankan program kerja. Dan mading buatan kami selalu ditunggutunggu semua siswa, karena menurut mereka sangat menarik dibandingkan dengan yang lainnya.

Inilah yang membuatku merasa sendiri di lingkungan yang baru, yang mana mengharuskanku memakai celana panjang (biasanya pakai celana pendek tanpa underwear). Sangat risih.

Tapi ada satu sisi yang harus kusadari, aku harus dapat unjuk diri. Toh anakanak yang satu SMP dulu masuk sekolah ini juga kehilangan temantemannya yang diandalkan untuk jadi tukang pukul.

Hari pertama masuk penataran (perlu diingat, saat ini masih masa orde baru) kami diperkenalkan kepada guruguru PPL yang berjumlah sekitar 9 orang.

Ada satu PPL wanita yang menarik, Is namanya. Bodynya biasa saja, tidak pendek tapi tidak dapat dibilang tinggi. Penampilannya anggun. Suaranya aku suka, jernih dan merdu kalau menyanyi. Yang tidak kusuka adalah penampilannya yang lainnya, yaitu terlalu menor.

Hari pertama itu aku langsung dihukum Bu Is (guru PPL), karena melanggar ketertiban sewaktu diskusi. Gila, disuruh berdiri di depan kelas, mana aku tidak pakai celana dalam lagi. Aku harus berdiri di sebelah kursinya, dan secara tidak langsung aku diharuskan melihat pahanya yang mulus itu dengan rok yang kalau dia duduk terangkat sampai sebatas lutut.

Apalagi dengan posisiku yang disuruh berdiri, dengan tinggi badan 170 cm akan dapat melihat dengan jelas garis belahan dadanya dari atas sewaktu dia duduk. Ala maak serba salah rasanya.

Apalagi sewaktu dia mengambil bollpoinnya yang jatuh, sehabis menunduk dan mau mengambil posisi tegak lagi, kibasan pakaian bagian dada yang memang agak rendah, memperlihatkan dengan jelas buah dadanya di balik BH dengan kain cup yang tipis dan tidak begitu luas. Sehingga banyak area payudaranya yang sempat kulihat.

Kencang mulus dan transparansi daerah puncaknya yang warnanya terlihat lebih tua dibandingkan kulit dadanya. Adik kecilku menggeliat dan kucoba untuk menahan gejolak, agar tidak bergerak kemanamana.

Kamu tetep berdiri di situ. Dan yang lain.., jangan dicontoh teman kalian ini. kata Bu Is.Temanteman pada tertawa riuh mendengarnya. Wah seram juga orang ini. Tidak disangka deh kalau orang secantik dia bisa marah.

Dengan mata yang memelototiku, aku merasa menjadi aneh. Tidak seperti biasanya kalau orang dimarahi ketakutkan, aku malah sedikit melamun seolah ingin mendekapnya dengan kencang dan menengadahkan wajahnya untuk melumat bibirnya yang merah dan menikmati matanya yang walaupun melotot karena marah menjadi sangat indah.

Walaupun aku belum pernah merasakan ciuman, tapi aku dapat merasakan nikmatnya seperti yang pernah kulihat di Video porno (Di desa anakanak memutar BF ramairamai kalau salah satu dari mereka yang punya video kebetulan orangtuanya lagi tidak ada.

Walaupun desa, yang namanya video waktu itu bukan barang mewah, karena kebanyakan orangtua mereka pernah menjadi TKI dan membeli videonya dari sana).

Mendadak tersadar setelah terasa ada sesuatu yang menyentuh adik kecilku. Aku jadi sangat gugup. Tapi ada perubahan sikap pada Bu Is, jadi lebih lembut dan menyapa dengan manja kepadaku seolah tak percaya.

Kamu bisa mainin gitarya..? Sudah kamu main gitar sambil kita samasama nyanyi lagu daerah katanya sambil menyorongkan gitar di depanku dan menyenggol adik kecilku.Temanteman satu kelas pada tertawa riuh.

Aku jadi sadar temanteman tadi mentertawaiku karena batang kemaluanku menyembul dan bergerak liar di balik celana abuabuku.

Aduh.., wajahku terasa panas dan malu. Untung saja gitar itu langsung kusambar dan siapsiap mau memainkan, sekalian untuk menekan batang kemaluanku yang gerakannya semakin liar.

Tetapi pada posisi ini sangat tidak enak untuk main gitar, karena posisi gitar terlalu ke bawah, yang semestinya pada posisi perut untuk main gitar dengan berdiri. Aku ambil keputusan turun dari lantai depan papan tulis yang memang lebih tinggi 20 cm dari lantai bawah bangku.

Aku duduk di atas bangku temanku terdepan. Tapi Bu Is lihat tidak yaaa tadi. Ah semoga tidak melihat. Ahh EGP! Dan akhirnya kami pun bernyanyi bersamasama, dan dari sini saya tahu kalau dia suaranya boleh juga.

Sejak peristiwa itu aku jadi sangat akrab dengan Bu Is yang kalau di luar sekolah biasa kupanggil Mbak Is. Aku sering main ke tempat kostnya yang tidak begitu jauh dari tempatku, dan kebetulan dia kontrak satu rumah dengan temanteman angkatannya.

Tidak ada yang namanya ibu kos di tempatnya, sehingga tempatnya sering jadi tempat main temantemanku, baik sore maupun malam hari.

Dan aku sering ke sana untuk main gitar dengan masmas dan mbakmbak PPL. Apalagi dia yang mau bisa main gitar (dengan alasan biar kalau ingin menyanyi bisa main gitar sendiri) tidak mau diajarikan siapasiapa selain aku. Padahal aku tidak seberapa mahir.

Tapi aku suka. Dia manja, dan kalau memanggilku dengan panggilan sayang kalau sedang di luar sekolahan. Aku tidak berpikir yang macammacam, toh temanteman satu kontrakannya juga tidak ada yang berpiikir macammacam padaku.

Dan aku tahu salah satu teman PPLnya ada yang naksir sama dia, dan dia (temannya yang naksir itu) tidak akan pernah cemburu padaku, walaupun untuk anak SMA dengan tinggi badan 170, aku masih terlihat seperti anak kecil, apalagi aku kalau memanggil Bu Is dengan sebutan mbak.

Keakraban kami tidak hanya di luar sekolah. Kebetulan dia pegang mata pelajaran Kimia. Salah satu pelajaran yang paling aku tidak suka. Sewaktu aku keluar kelas dan mau ke kamar kecil dan melewati ruang guru, aku dipanggil.

Dy sini..! katanya.Wah.., dia pakai blus dengan potongan leher yang pendek lagi, (bajunya banyak yang model gitu kali) dan dibalut jas almamaternya dengan kancing yang terbuka semua, juga masih dengan model rok yang sama.

Ada apa..? jawabku.Aku ditarik masuk ke ruang guru. Sepi tidak ada satu orang pun. Aku dibimbingnya berjalan menuju satu meja dan berdiri menempel ke bibir meja. Dia berdiri di belakangku dengan tangan kirinya menopang meja sebelah kiri merapat ke pahaku, dan tangan kanannya bergerak di kanan badanku mengambil lembaran kertas buram.

Besok aku mau ngadain ulangan. Ini soalnya, kamu baca dan kamu pelajari..! katanya.Aku terdiam. Posisiku sangat tidak enak, aku ditekan dari belakang, badannya agak miring ke kanan dengan tangan yang terus coratcoret di kertas buram.

Pantatku yang tidak seberapa besar menempel ketat di sekitar daerah pusarnya. Tetapi punggungku terasa ada sesuatu yang asing menempel hangat dan empuk (maklum, sebelumnya aku tidak pernah merasakannya).

Setiap dia menerangkan dengan mencoratcoret kertas, badannya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tekanantekanan. Membuat punggungku terasa ada tekanan sensasi nikmat yang berputarputar.

Batang kemaluanku langsung bergerak. Edan..! Aku tidak memakai celana dalam. Dia terus menerangkan dengan antusias. Bau parfumnya halus sekali. Aku jadi kelimpungan, dia terus menekannekan punggungku dengan dadanya.

Kadangkadang aku juga merasakan pantatnya sering digesergeser untuk menekan pangkal atas pahanya ke pantatku dengan sedikit menjinjingkan kaki, walau dia pakai sepatu hak tinggi. Hangat sekali rasanya.

Aku berkeringat dan tidak dapat berpikir jernih. Dia terus saja menerangkan. Setiap selesai menerangkan satu bahasan soal, dia memandangku sambil menekan lebih keras badannya ke punggungku, bahkan terasa dia merangkulku dengan satu tangan kirinya yang ditempel dan ditekan keras ke pahaku.

Jarijarinya sedikit menyentuh batang kemaluanku. Ah.., makin lain saja rasanya. Satu sisi aku takut kalau dia tahu ada yang tidak beres dan memalukan pada diriku, karena sangatsangat jelas batang kemaluanku menyodok kain celanaku hingga membentuk gundukan yang tidak wajar pada pangkal paha.

Cerita Sex Gugup diatur Guruku

Bergerakgerak lagi. Wah aku rasa denyutannya semakin kencang sampai aku tidak dapat mengontrol perasaanku, badanku terasa tidak menginjak lantai.

Apalagi bila dia menatapku dengan pertannyaan, Sudah mengerti..? dengan sedikit mendenguskan nafasnya ke arah dadaku.Terasa hangat.

Dan tangan kiri yang yang menempel ketat di pahaku dengan jarijari yang kadang seolaholah mau mengelus tonjolan batangan kemaluanku di balik celana seragam. Ah aku rasa dia tahu dan mengerti perubahan keadaanku.

Aduh aku tidak dapat mengontrol diri lagi, aku sudah tidak dapat merasakan denyutan batang kemaluanku, rasanya tegang sekali dan seolaholah mau pecah.

Apalagi ketika dengan sedikit disengaja (mungkin), posisi kuku jari tengahnya menempel tepat di tonjolan celana dan pada area kepala batang kemaluanku. Digaruknya pelan dan lembut. Saat itu aku langsung tegang dan seolaholah ada suatu yang menjalar pada tubuhku, persendian terasa lepas dengan keringat dingin sedikit membasahi punggungku yang panas, juga pangkal pahanya dan pahaku yang semakin terjepit ke bibir meja.

Mbak Is terasa mamaksa merangkulku dengan tangan kanan yang tadi memegang pen, dilepas dan mencengkeram tanganku. Dan tangan kirinya langsung saja ditekan dan digesekgesekkan dengan cepat di tonjolan celanaku. Seolaholah ada keraguan untuk meremas.

Aku diam dan sedikit mengeluh, dia pun begitu. Terasa ada yang hangat dan basah pada celanaku, perih juga rasanya lubang kepala batang kemaluanku.

Mbak Is berjingkat sambil melihat telapak tangannya yang basah. Setengah sadar kutarik nafas dan bergerak menghindar dan berusaha keluar ruang guru dengan tubuh terasa melayang tanpa menoleh memperhatikannya lagi. Tidak tahu apa perasaanku waktu itu.

Aku keluar dulu. Biar kupanggil Eko untuk lihat soal itu.. kataku.Dy kamu bawa saja..! Nanti malam kembalikan di tempatku..! potongnya.

Aku tidak memperhatikannya, dan mengurungkan niat kembali ke kelas untuk memanggil Eko agar membaca soal itu juga. Aku tidak balik masuk ke dalam ruangan untuk mengambil kertas soal, tetapi langsung ke kamar kecil.

Langsung kubuka celana dan menarik batang kemaluan yang masih keras dan berdenyutdenyut dengan berirama. Ada cairan putih kental membasahi kain dalam celanaku dan tembus keluar. Aku langsung berusaha konsentrasi buang air kecil. Rasanya sulit, perih dan panas sekali. Lama aku berusaha mengeluarkannya, dan akhirnya keluar juga.

Aduuhh periihh, dan saluran airnya terasa panas sekali. Benar, terasa kebakar. Selesai keluar habis, panasnya tidak hilang. Aku berusaha tenang dengan merendam kepala batang kemaluanku ke dalam gayung berisi air penuh.

Masih saja terasa panas, padahal airnya dingin. Kudiamkan saja, toh dengan situasi seperti ini aku tidak enak untuk masuk kelas. Apalagi batang kemaluan ini kalau lagi bangun keras sekali, pasti deh bikin tonjolan keluar.

Sebenarnya ukuran punyaku lebih kecil dari punya temantemanku di kampung, sekitar 14,5 cm dengan lingkar 12 cm saja, bengkok ke kanan lagi. Ini aku tahu karena seringnya aku main dan berenang bersama mereka. Aku pun menunggu sampai semua beres, walau sampai bel istirahat. Tidak apaapa, sekalian bolos.

Tidak hanya dalam mata pelajaranya saja dia membantu. Pada saat ujian matematika pun, walau dia mengajar di kelas sebelah, selalu dia sempatkan menengokku dan membantu menyelesaikan tugas dengan memberikan jawaban pada selembar tissue.

Dan tidak ada yang tahu selain teman sebangku aku. Teman sebangkuku ini sangat akrab denganku. Dengannya pula aku membangun komplotan (Kami sebut komplotan karena selalu oposisi pada organisasi sekolah) bersama seorang anak yang kami tuakan,

Avin namanya. Dia tinggal kelas, sebenarnya tidak nakal (nakal menurutku = suka berkelahi). Komplotan kami sebenarnya tidak takut berkelahi, tetapi kalau ada yang jadi, kami juga tidak takut beli. Nanti ada ceritanya. Mungkin kalau menurut bahasa anak sekarang cool.

Dari dia juga, ada rencana mengajak kumpul malam minggu di pantai dengan Mbak Is dan temantemannya yang lain. Sambil bakar jagung dan nyanyinyanyi, PPL semuanya pada ikut. Kami bikin acara api unggun, ngomong ngalorngidul, nyanyinyanyi dan main gitar.

Dan dimana ada aku, di situ Mbak Is selalu ada. Walau disana ada temannya yang naksir dia, sikapnya biasa saja. Dan kami sering berangkulan bertiga dengan Mas Itok (PPL Bhs. Inggris).

Mas Itok pun tidak pernah curiga denganku. Dia mengerti kalau Is itu manja, anak bungsu (tidak punya adik dong) dan dia menganggap aku ini adiknya. Tetapi kalau ada apaapa, Mbak Is pasti merangkulku.

Aku jadi tidak enak juga lamalama. Padahal tubuhku biasa saja, cenderung kurus. Jika dibandingkan dengan Mas Itok yang walaupun lebih pendek dariku, tetapi dia dapat dikatakan memiliki bentuk tubuh yang atletis.

Kulitnya sedikit gelap dibandingkan dengan kulit Mbak Is yang kuning langsat cerah, kulit orang jawa yang bersih terawat dengan payudara yang walau dari luar kelihatan biasa saja tapi kalau dilihat benarbenar lumayan besar.

Mungkin satu genggaman tangan lebih sedikit, kencang lagi. Toh aku pernah secara tidak sengaja juga pernah melihat dan merasakan gesekangesekan di punggungku, jadi aku dapat mengirangira berapa ukurannya.

Aku tambah tidak mengerti sewaktu Mbak Is tidak mau diajak pulang sama Mas Itok, karena alasan sudah dini hari. Akhirnya ditinggal pulang juga, karena disitu toh ada aku. Dan Mbak Is semakin tidak kumengerti.

Dia semakin erat saja memelukku pada posisi berbantal di pahaku dengan wajah dibenamkan dekat selangkangan. Tangannya melingkar di punggungku.

Aku takut batang kemaluanku akan bergerakgerak lagi. Memang sudah dari tadi terasa sudah tegang sekali karena terangsang bergesakan badan terus dengannya. Apalagi sekarang wajahnya dibenamkan ke selangkanganku dengan hembusan nafasnya yang tidak teratur dan hangat.

Sudah tidak bisa dicegah lagi, batang kemaluanku terasa berontak dan langsung menonjol membetuk gundukan hebat di balik celana menekan wajahnya. Kepalang basah dan tidak dapat dicegah lagi. Sudah hilang rasa maluku, dan seopertinya dia yang sengaja demikian.

Tapi aku tidak mengerti, aku harus bagaimana. Wajahnya malah seolaholah digesekgesekkan dan ditekan ke selangkanganku. Dan pelukannya ke punggung malah semakin kencang saja. Posisiku yang duduk dengan satu kaki bersila dan satunya lagi selonjoran di tanah menyulitkanku untuk bergerak bebas.

Ditambah lagi ketidakberanianku untuk.. Ah ngaco.., Avin yang sedari tadi memperhatikanku mendekat mengendapendap di hadapanku. Kasih kode yang tidak kumengerti.

Mbak Is semakin tidak karuan saja, sekarang dia malah seolaholah mau menggigit batang kemaluanku yang menyembul menekan celana. Avin masih pada tempatnya dengan tangan dan mulut bergerakgerak tapi tidak kumengerti maksudnya.

Cerita Sex Gugup diatur Guruku

Aku sekarang semakin terasa sakit karena Mbak Is telah benarbenar menggigit batang kemaluanku, dan tangannya yang melingkar di punggungku dilepaskan satu untuk memegang tonjolan itu. Aku meringis menahan nikmat, geli, sakit tidak karuan.

Sekarang tangan yang satunya malah dilepaskan dari pinggang dan keduaduanya memegang batanganku, lalu berusaha membuka resletingku. Aku semakin gemetaran saja. Begitu celana terbuka batanganku terasa melompat keluar, dan dia langsung saja nyosor mengulumnya.

Nafasnya semakin tidak beraturan. Aku merasa kegerahan. Dia langsung merubah posisi jongkok sambil membenamkan wajahnya mengulum habis batangan. Tanganku dibimbingnya menyentuh buah dadanya.

Dy pegang ini sayang remaass sayaanggg nggg ssstt nikmat sayanggg ssstt..Tanganku gemetaran dan langsung kuremas keraskeras. Langsung kutarik ke bawah BH tipisnya, tapi tetap tidak bisa.

Hanya sedikit yang menyembul keluar, aku kesulitan menjamahnya. Tangan Mbak Is langsung menyusup ke dadanya sendiri. Ternyata melepas kaitan BHnya. Aku tidak ngerti kalau kaitan itu ada di depan, dan kalau toh tahu belum tentu aku dapat melepaskan kaitan itu.

Sekarang buah dadanya menggantung bebas dan aku jadi leluasa meremasnya. Rasanya aneh empuk, padat, hangat belum pernah aku merasakan sensasi seperti ini. Batang kemaluan disedotsedot nikmat, dan aku meremasremas buah dadanya yang kenyal dan asing rasanya.

Seumurumur belum pernah aku merasakan meremas buah dada wanita. Apalagi dengan batang kemaluanku dihisaphisap. Avin merayap dan mendekat.

Lewat kodekodenya aku jadi mengerti kalau aku disuruhnya meletakkan tanganku pada pantat Mbak Is yang nungging itu. Kueluselus pantat yang tak begitu besar tapi padat itu. Sekonyongkonyong tangan Mbak Is membuka reitsletingnya sendiri.

Sini sayangg masukkan sini sayaaanggAku selusupkan tangan kananku masuk ke dalam celananya. Kurabaraba sampai ke selangkangannya yang paling sempit. Aku tidak menemukan apa yang ingin kucari.

Kecuali ada sedikit daging yang membukit dan hangat rasanya. Tangan kiriku yang dari tadi bebas tanpa aktifitas kini kualihkan untuk menarik celananya agar lebih turun ke bawah dan aku jadi lebih bebas bergerak merabaraba selangkangannya.

Dia semakin liar saja menghisap batang kemaluanku sampai pada pangkal bawah dekat telur puyuh. Dijilatnya penuh nikmat. Dan celananya sudah turun sampai atas lututnya, dan dia berusaha mengangkangkan kakinya, tetapi tidak dapat karena tertahan lingkar pinggang celananya.

Tetapi sedikit lumayan, aku dapat menemukan gundukan daging di selangkangan yang sudah basah. Coba kutekantekan sedikit, sepertinya bisa cekung ke bawah. Dia semakin mendesisdesis tidak karuan.

Avin sudah dekat. Aku diam saja sewaktu tangan Avin mencoba menyusup ke balik celana dalam Mbak Is yang tipis dan berwarna pink itu. Avin mengulurkan telunjuknya dan menyusupkannya, lalu menekannya dan masuk setengah jari.

Aduhhh sssaayanggg.. eehhmm terruusss sayaangg nggg aakkkhh teerrruuss sss.. erangannya menjadijadi.Aku jadi mengerti kalau lubang itu mungkin yang disebut vagina, lubang kewanitaan yang bisa untuk hubungan seks.

Langsung saja kumasukkan satu jariku mengikuti jari Avin yang sudah masuk ke dalam.

Aaauuggghh.. hhh Mbak Is tersedak menghisap batangku sewaktu jariku dan jari Avin masuk bersamaan di lubangnya.Jarijari tangannya mencengkeram keras di batangku dengan kukukukunya yang panjang terawat menancap daerah sekitar kemaluanku.

Aaauu sakiiit..! aku menjerit.Mbak Is langsung mau bangun, tapi tanganku yang kiri langsung membenamkan kepalanya lagi untuk menghisap batang kemaluanku. Aku takut nanti Mbak Is tahu kalau Avin yang menusuk kemaluannya dengan jari.

Ssudaahhh Dy akuu nggaaak kuaattthh.. llhhhheeebb.. bbbbeebbbAku semakin kasar saja bertindak dengan membenamkan wajahnya, dan dia tersedak lagi. Aku merasa batang kemaluanku sampai menyentuh pintu tenggorokannya.

Dan dia batukbatuk, tapi masih saja menghisap batang kemaluanku sambil menangis mengibaiba nikmat dan tidak jelas apa yang diucapkannya.

Sekonyongkonyong Avin sudah memelorotkan celananya dengan setengah berdiri bertumpu pada lutut, siap mengeluarkan batang kemaluannya sendiri sambil merapatkan satu jari telunjuk pada bibirnya, menyuruh aku untuk diam saja.

Kubantu Avin menurunkan CD Mbak Is yang basah membentuk lintangan panjang oleh lendir. Kini aku dapat melihat dengan jelas. Disitu ada bulubulu yang tidak begitu lebat bila dibandingkan punyaku dan Avin. Belahan pantatnya begitu sempurna. Padat, kenyal, bersih dan tidak ada perbedaan warna seperti punya temanteman yang biasa kutahu.

Mbak Is mengerang sewaktu aku berusaha membantu Avin melepas celana panjang dan CD Mbak Is biar berada lepas dari lututnya, sehingga kakinya dapat lebih lebar mengangkang. Avin mencoba menggeser penisnya pelanpelan ke mulut lubang Mbak Is.

Terlihat mengkilat kepala penis Avin oleh lendir Mbak Is yang terkena terpaan cahaya bulan malam itu. Pelanpelan disodoknya masuk ke dalam.

Bblleebbb sss sssttt.. niikmaatt shaayyyaaangg aauughhh.. erangnya tanpa tahu penis orang lain yang menusuk vaginanya.Aughh terrruuusshh sshhh sshh saayyyaaaangg terusss shh.. ssshhh sshaayyangg shh..

Kepalanya digoyanggoyang keras ke kiri dan ke kanan tanpa mau melepas batang kemaluanku dengan cengkeraman kuku tangannya yang menghujam panas di selangkanganku.Aauu..! jeritku tertahan.

Kutarik tangannya dari kemaluanku, tapi tanganku malah dipegangnya dan diarahkan ke dadanya. Kuremas habis payudaranya yang kenyal, kupelintir putingnya yang kecil dan lancip. Daging yang tadi menggelatung bebas kini kuremas dan kupelintir dengan kedua tanganku.

Gelengan kepalanya ke kiri dan ke kanan semakin keras, kadangkadang kepalanya dibenturbenturkan ke selangkanganku.

Nafasnya memburu dengan desisan yang tidak menentu. Punggungnya ditekan lebih ke bawah dan payudaranya hampir menyentuh rumputrumput tanah. Tanganku jadi tidak hanya memelintir dan meremas payudaranya saja, tetapi juga menahan tubuhnya.

Kepalanya sedikit mendongak ke atas dengan rambut yang semakin awutawutan menutupi wajahnya dan mulutnya menganga lebar merasa kenikmatan yang tidak kumengerti seberapa dahsyat yang Mbak Is dapat dari sodokan penis Avin dengan ukuran yang lebih pendek dari punyaku itu.

Posisi dia ini menyebabkan pantat Mbak Is semakin menungging terangkat ke atas. Bertambah indah, aku kagum melihat bentuknya, walaupun tidak begitu besar tapi didukung perutnya yang kecil, apik, jadi terkesan berbody gitar.

Suarasuara cepakan pantat yang beradu dengan pangkal paha seolah tidak dihiraukan oleh Mbak Is. Dia mengerang dan goyangan pinggulnya semakin hebat. Desisan nafasnya semakin cepat dan dia semakin kuat mencengkeram kemaluanku.

Pada tahap berikutnya seolah dia tegang luar biasa, menjerit kecil.Aacckhh aahhh cceeeepttt shhaayyaang..! badannya sedikit mengejang dan tibatiba dikulum dan dihisapnya lagi batangku yang tadi hanya dicengkeram saja.

Aku semakin terhanyut iramanya, kuremasremas payudaranya dengan kuat. Sekonyongkonyong ada rasa yang menjalar kuat pada saluran batangku. Mbak Is tanpa kuduga menggigit dengan kuat batangku yang keras itu diikuti sentakan yang cepat dan kuat pada pantatnya yang beradu dengan perut Avin dengan vagina yang masih disodoksodok penis.

Aakkhh..! aku menjerit panjang dan lirih, merasa sakit dan nikmat.Ada rambatan aneh pada saluran kemaluanku. Rasanya tulangtulangku copot dari persendian dan sarafsarafku terasa kendor setelah ketegangan luar biasa dan lama yang kurasakan.

Aku jatuh rebah telentang setelah sekian lama bertahan pada posisi duduk. Batang kemaluanku terasa memuntahkan muatannya yang dari tadi tertahan oleh ketidaktahuanku akan seks. Terasa hangat membanjiri rongga mulut Mbak Is dan langsung ditelannya.

Karena saking banyaknya yang kukeluarkan dan dia sendiri habis mengalami sentakan hebat dan lemas, sampai dia terbatukbatuk tersedak air maniku.

Mbak Is mencoba bangun, terkejut dan mau menjerit ketika dia sadar masih ada sesuatu yang menusuknusuk kemaluannya, sementara posisiku melintang dari tubuhnya.

Avin cepatcepat membekap mulutnya dari belakang, dan aku coba membantu Avin dengan memeluk tubuh Mbak Is. Mbak is manangis hebat, wajahnya dibenamkan ke pundakku.

Aku merasa sodokansodokan hebat dari tubuh Mbak Is karena digenjot Avin dari belakang. Avin mengerang dengan tubuh yang sedikit gemeter.

Aaakkhh Iiissshh Aaakkkhh sshhudddaakhh hhh.. dia mengerang dengan menancapkan habishabis punyanya ke dalam vagina Mbak Is yang sudah basah itu.Dia rangkul pundak Mbak Is dengan penis masih menancap disana.

Setelah avin melepaskan penisnya dari vagina, Mbak Is jadi lebih bebas berubah posisi duduk di pangkuanku dan memelukku eraterat sambil menangis sejadijadinya.

Rupanya dia sadar kalau ada orang yang selain aku yang memberinya kenikmatan, tetapi dia tidak mengerti kalau itu Avin. Kawanku dan juga muridnya di sekolah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here