Rina Anak Teman Bisnisku

0
22

Rina Anak Teman Bisnisku

saya yakni seseorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, & saat ini telah tingkat akhir. utk disaat ini saya tak meraih mata kuliah lagi & cuma mengerjakan skripsi saja. Oleh lantaran itu saya tidak jarang bermain ke ruang abangku di Jakarta.

Pada suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anakistrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP.

Setiap aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah. Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman.

Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai 1 film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD bokep. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tibatiba terdengar pintu depan dibuka.

Aku pun tergesagesa intuk mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD bokep di bawah karpet.

Hallo, Oom Ryan..! Rina yang baru masuk tersenyum.
Eh, tolong dong bayarin Bajaj uang Rina sepuluhribuan, abangnya nggak ada kembalinya. Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah.

Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan.

Dia memandang kepadaku dan tertawa geli.

Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain tementemen di sekolah, tapi belon pernah liat. Gugup aku menjawab,
Rina kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.
Aahhh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem. Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton.

Dari dapur aku dudukduduk di beranda belakang membaca majalah. Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai bergerak, sekarang benarbenar menegak dan mengganjal di celanaku. Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah.

Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!
Ah, gampang! Semut lagi push up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian putihbiruputih, kecil, keringetan, apa..? Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
Yang bener Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!
Aahhh Oom Ryan ngeledek..! Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku.

Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan tersandung! Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengahengah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Rina makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya.

Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.

Uuuuuuhh mmmhhh Rina menggelinjang.

Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubunubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya. Aahhh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos! Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, bergantiganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina.

Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

Ehhhhh mmmaaahhh.., tangan Rina meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.

Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.

Ooohh aduuhhh.., Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.

Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak terengah engah, matanya terpejam.

Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langitlangit, kubelai belaikan di pipi Rina.

Mmmhh mmmhhh ooohhhmmm.., ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.

Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku bergantiganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya. Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.

Dengan tangan, kugesekgesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang.

Ohhmm, mam msuk hhh msukin Omm hhh ehekmm Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah desah.

Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil. Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha.

Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kukukuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otototot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya. Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku.

Rina mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.

Aduhhh ssshhh iya terusshh mmmhhh aduhhh enak Oommm Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku.

Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jarijariku bergantiganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak. Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Rina makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengahengah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa sisa kenikmatan orgasme.

Aduh, Oom Rina lemes. Tapi enak banget. Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus.

Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremasremas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang. Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme,dan Rina entah berapa kali.

Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah. Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku.

Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerakgerak mengikuti kepalanya yang naikturun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku blowjob, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here